BOJONEGORO – Masyarakat Bojonegoro tengah dibuat geram oleh kondisi jalan provinsi mulai dari perbatasan Babat Lamongan hingga Bojonegoro kota.
Jalur vital yang membentang dari perbatasan Babat Lamongan hingga pusat kota Bojonegoro terpantau berlubang dan bergelombang di banyak titik.
Ironisnya, perbaikan yang dilakukan sebelumnya terkesan hanya “akrobat” tambal sulam yang kekuatannya tak lebih dari seumur jagung.
Bayangkan saja, aspal yang baru diperbaiki di wilayah Balen dan Baureno belum genap sebulan sudah terkelupas dan kembali berlubang bahkan ada juga yang bergelombang.
Fenomena “rusak-tambal-rusak” ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat Bojonegoro, ke mana anggaran perawatan mengalir.
Pada Jumat malam (6/3/2026), kemacetan panjang mengular di sekitar perempatan timur Balen akibat adanya pengerjaan perawatan jalan walaupun keadaan hujan rintik-rintik.
Bukannya mendapat apresiasi, pengerjaan di jam sibuk ini justru dikritik karena dianggap tidak efisien.
“Belum satu bulan sudah rusak lagi. Ditambal, lalu hancur lagi. Ini seperti buang-buang anggaran,” cetus Arifin salah satu warga Bojonegoro wilayah timur yang kerap melintasi jalan tersebut.
Curah hujan memang tinggi, namun menyalahkan alam atas hancurnya infrastruktur dalam hitungan minggu adalah alasan klasik yang basi.
Masyarakat Bojonegoro mulai mencurigai adanya kelemahan teknis, mulai dari material aspal yang disinyalir kurang berkualitas, metode pengerjaan yang asal-asalan, hingga pengawasan proyek yang longgar.
Jalur ini adalah urat nadi logistik. Truk-truk besar melintas setiap menit. Jika perbaikan hanya bersifat formalitas tanpa standar ketahanan beban berat, maka jalan ini akan terus menjadi “jebakan maut” bagi pengendara, terutama roda dua.
Dosa proyek ini makin lengkap saat pantauan di lokasi menunjukkan banyak pekerja yang mengabaikan Alat Pelindung Diri (APD).
Tanpa helm proyek dan rompi keselamatan yang memadai, nyawa pekerja dipertaruhkan di jalur padat ini.
Ini adalah bukti nyata betapa lemahnya pengawasan dan akuntabilitas kontraktor pelaksana.
Masyarakat mendesak evaluasi total terhadap kontraktor. Jangan sampai jalan poros provinsi di Bojonegoro hanya menjadi mesin ATM bagi oknum tertentu melalui proyek tambal sulam yang tak kunjung tuntas. (aj)

























