BOJONEGORO – Tradisi leluhur, semangat kebersamaan, dan geliat ekonomi kreatif berpadu dalam kemeriahan puncak acara Umbul Dungo Kelurahan Kepatihan Tahun 2026 yang digelar pada Jumat malam (12/6/2026).
Ratusan warga memadati lokasi kegiatan untuk mengikuti rangkaian acara yang tidak hanya menjadi wujud rasa syukur, tetapi juga simbol pelestarian budaya dan penguatan UMKM lokal.
Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, Umbul Dungo semakin mendapat perhatian masyarakat dan pemerintah daerah.
Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa sejak awal acara yang diisi berbagai kegiatan budaya dan keagamaan khas masyarakat Kepatihan.
Lurah Kepatihan, Putri Negari, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Umbul Dungo merupakan bentuk modernisasi dari tradisi sedekah bumi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Tradisi tersebut menjadi sarana mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat dan keberkahan yang diterima warga.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak sehari sebelumnya dengan Khataman Al-Qur’an, Ndungo Cungkup, hingga Kirab Tumpeng Pitu yang diarak menuju makam para leluhur pada pagi hari.
Berbagai prosesi tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam kesempatan itu, Putri Negari juga menyampaikan kabar menggembirakan terkait kuliner khas daerah.
Serabi Bojonegoro yang dikenal dengan cita rasa gurih serta taburan kelapa dan bubuk kedelai kini telah resmi memperoleh Sertifikat Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dari Kementerian Hukum dan HAM.
Menurutnya, pengakuan tersebut menjadi langkah penting dalam menjaga warisan kuliner tradisional agar tetap lestari dan tidak diklaim oleh daerah lain di masa mendatang.
Tak hanya fokus pada pelestarian budaya, Kelurahan Kepatihan juga meluncurkan inovasi pemberdayaan ekonomi melalui program “Sumur Ringin” atau Semua UMKM Makmur, Siap Bersaing, dan Inovatif.
Program ini dirancang untuk memperkuat daya saing pelaku usaha lokal melalui berbagai fasilitas pendampingan.
Melalui program tersebut, seluruh UMKM di Kelurahan Kepatihan didorong memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), memperoleh sertifikasi halal secara menyeluruh, serta mendapatkan akses digitalisasi pemasaran melalui platform ojek online lokal.
Sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat, seluruh produk kuliner UMKM yang disajikan dalam acara tersebut dapat dinikmati secara gratis oleh pengunjung.
Kemeriahan acara semakin lengkap dengan hiburan campursari dan pertunjukan Langen Tayub yang menghibur warga hingga malam hari.
Kehadiran Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menjadi perhatian tersendiri. Di hadapan warga, ia memberikan apresiasi atas kreativitas dan inovasi yang ditunjukkan Kelurahan Kepatihan dalam mengembangkan tradisi menjadi kegiatan yang berdampak bagi masyarakat.
Menurutnya, Umbul Dungo tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga sarana memperkuat doa dan kebersamaan warga demi keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati juga menyampaikan bantuan dari Bupati Bojonegoro berupa gerobak usaha bagi sembilan pedagang serabi yang selama ini konsisten menjaga eksistensi kuliner khas Bojonegoro.
Melihat tingginya antusiasme masyarakat, Nurul Azizah mendorong agar kegiatan ini mendapatkan dukungan lebih luas dan menjadi agenda resmi tingkat kabupaten.
Usulan tersebut langsung mendapat respons positif dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Elsa, yang menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung pengembangan kegiatan tersebut.
Mulai tahun depan, Umbul Dungo dan Festival Seribu Serabi akan resmi masuk dalam kalender agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan promosi budaya lokal sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Dukungan juga datang dari unsur Forkopimcam Bojonegoro, termasuk Camat, Kapolsek, dan Danramil yang berkomitmen menjaga keamanan serta mendukung Kepatihan sebagai contoh keberhasilan kolaborasi antara pelestarian budaya dan inovasi modern.
Acara ditutup dengan pembukaan simbolis melalui pemukulan gong oleh Wakil Bupati Bojonegoro yang didampingi Lurah Kepatihan, Kepala Disbudpar, Forkopimcam, serta para Ketua RT dan RW setempat.
Dengan ditetapkannya Umbul Dungo sebagai agenda tahunan kabupaten, masyarakat Kepatihan optimistis tradisi warisan leluhur akan terus hidup dan berkembang, berjalan seiring dengan kemajuan UMKM serta pertumbuhan ekonomi kreatif yang semakin menjanjikan. (Pro/aj)

























