BOJONEGORO – Kinerja perekonomian Kabupaten Bojonegoro pada Triwulan II 2026 menghadapi tekanan dari sektor minyak dan gas bumi (migas).
Meski demikian, kondisi tersebut ternyata tidak terjadi pada seluruh sektor.
Aktivitas ekonomi di luar pertambangan migas justru masih mampu tumbuh positif sebesar 5,86 persen secara year on year (YoY).
Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik struktur ekonomi Bojonegoro yang cukup berbeda dibandingkan daerah lain di Jawa Timur.
Sektor pertambangan, khususnya migas, memiliki porsi sangat besar dalam perekonomian daerah.
Kontribusinya mencapai sekitar 46 persen dari struktur ekonomi Bojonegoro.
Besarnya porsi tersebut membuat perubahan produksi migas secara otomatis memberikan pengaruh besar terhadap angka pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.
Pada Triwulan II 2026, sektor pertambangan mengalami kontraksi seiring penurunan lifting.
Dampaknya, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro secara total ikut terkoreksi.
“Kalau migas kita keluarkan, sebenarnya kita masih tumbuh 5,86 persen,” ujar Syawal.
Berdasarkan perhitungan kumulatif atau C-to-C, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro yang memasukkan sektor migas tercatat mengalami kontraksi sebesar 1,82 persen.
Sementara jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya atau YoY, ekonomi Bojonegoro pada Triwulan II 2026 terkontraksi 3,66 persen.
Menurut Syawaluddin, angka tersebut terutama dipengaruhi melemahnya sektor pertambangan akibat penurunan lifting migas.
Sementara itu, sejumlah sektor non migas masih mampu mempertahankan pertumbuhan positif.
“Migas di Bojonegoro sekitar 46 persen. Jadi ketika pertumbuhan migas turun, dampaknya terhadap pertumbuhan total juga cukup besar,” jelasnya.
Selain pertambangan, sektor pertanian juga turut memengaruhi pergerakan ekonomi jika dilihat secara quarter on quarter (QoQ) atau perbandingan antara Triwulan II dan Triwulan I 2026.
Hal itu disebabkan sektor pertanian memiliki pola produksi yang mengikuti musim.
Di Bojonegoro, panen raya pada 2026 umumnya berlangsung pada Triwulan I.
Ketika memasuki Triwulan II dan masa panen raya berakhir, produksi pertanian kemudian cenderung menurun.
“Pertanian itu ada pola musimannya. Panen raya biasanya di Triwulan I, sehingga ketika masuk Triwulan II memang mengalami kontraksi,” terang Syawal.
Di tengah tekanan sektor migas dan faktor musiman pertanian, beberapa sektor nonmigas masih menjadi penopang ekonomi daerah.
Salah satunya perdagangan yang tetap mencatatkan pertumbuhan positif.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kontraksi ekonomi secara keseluruhan tidak berarti seluruh lapangan usaha di Bojonegoro mengalami penurunan.
Justru, sektor-sektor non migas memperlihatkan daya tahan dan potensi sebagai sumber pertumbuhan baru.
Meski pertumbuhan ekonomi Bojonegoro secara YoY pada Triwulan II 2026 terkontraksi 3,66 persen, daerah ini tetap masuk 10 besar kabupaten/kota penggerak perekonomian Jawa Timur, dengan kontribusi sebesar 3,22 persen.
Syawaluddin menekankan pentingnya membaca angka pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh, dengan melihat karakteristik dan kontribusi setiap lapangan usaha.
Ketergantungan yang cukup besar terhadap migas membuat perubahan produksi sektor tersebut sangat memengaruhi indikator ekonomi daerah.
Karena itu, penguatan sektor nonmigas menjadi salah satu kunci untuk menjaga keberlanjutan perekonomian Bojonegoro.
Pertanian, perdagangan, industri pengolahan, hingga jasa kesehatan dinilai memiliki potensi untuk terus dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan di luar sektor migas. (aj)

























