BOJONEGORO – Nuansa kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur begitu terasa di Dusun Swirot, Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro.
Ratusan warga setempat menggelar tradisi Sedekah Bumi pada Rabu (17/6/2026), sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen dan keberkahan yang diterima selama setahun terakhir.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Selain sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sedekah Bumi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Sejak pagi, warga tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Acara turut dihadiri Kepala Desa Sidorejo Anto Hermawan bersama perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, anggota Linmas, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Rangkaian Sedekah Bumi diawali dengan prosesi adat eleng-eleng yang diiringi alunan gamelan tradisional.
Suasana sakral kemudian berlanjut dengan doa bersama dan kenduri yang dipusatkan di Punden Watu Endes, salah satu tempat yang memiliki nilai historis bagi masyarakat setempat.
Dalam suasana penuh khidmat, warga berkumpul memanjatkan doa untuk memohon keselamatan, kesehatan, keberkahan, serta hasil panen yang lebih baik pada musim berikutnya.
Momen tersebut menjadi simbol kuatnya hubungan spiritual masyarakat dengan tradisi yang telah diwariskan para pendahulu.
Tak hanya sarat nilai religius dan budaya, Sedekah Bumi juga memperlihatkan tingginya semangat gotong royong warga.
Seluruh masyarakat terlibat aktif dalam persiapan hingga pelaksanaan acara, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dan harmonis.
Sebagai hiburan puncak, panitia menghadirkan kesenian tradisional Langen Tayub yang dibawakan oleh Grup Seni Karawitan Sekar Condong Laras dari Dusun Ngrapah, Desa Mlideg, Kecamatan Kedungadem.
Penampilan grup yang dipimpin Ki Anom Tarjuki tersebut sukses menyedot perhatian masyarakat.
Semarak acara semakin terasa ketika para waranggono, yakni Nyi Wariati, Nyi Khusnul, Nyi Ayu Mustika, dan Nyi Suciati, membawakan berbagai tembang Jawa yang berpadu harmonis dengan iringan gamelan.
Warga pun menikmati suguhan seni budaya tersebut dengan penuh antusias hingga malam hari.
Kepala Dusun Krajan, Oki Muji Adi Saputra, menjelaskan bahwa pelaksanaan Sedekah Bumi tahun ini sepenuhnya didukung oleh swadaya masyarakat.
Menurutnya, hal itu menjadi bukti nyata kepedulian warga dalam menjaga tradisi sekaligus memperkuat rasa kebersamaan.
“Tradisi ini rutin kami laksanakan setiap tahun dengan dana swadaya masyarakat. Ini merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah sekaligus upaya bersama melestarikan budaya warisan leluhur,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sidorejo Anto Hermawan menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan masyarakat yang telah berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut.
Dia berharap tradisi Sedekah Bumi dapat terus dipertahankan dan dikembangkan sehingga semakin menarik serta mampu menjadi daya tarik budaya di wilayah Kedungadem.
Bagi warga Dusun Swirot, Sedekah Bumi bukan hanya sekedar agenda tahunan, tradisi ini menjadi simbol rasa syukur, penguat persaudaraan, serta wujud nyata komitmen masyarakat dalam nguri-uri budaya Jawa agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Melalui pelestarian tradisi seperti Sedekah Bumi, nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya lokal diharapkan terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi muda sebagai identitas yang membanggakan. (aj)

























