Beranda Daerah Petani Tembakau Bojonegoro Belajar Teknologi Baru, Siap Hadapi Musim Tanam

Petani Tembakau Bojonegoro Belajar Teknologi Baru, Siap Hadapi Musim Tanam

IMG 20260610 WA0004

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor pertanian.

Salah satunya melalui program Sekolah Lapang (SL) Tembakau yang digelar oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro sebagai sarana pembelajaran langsung bagi para petani tembakau.

Program ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta mengubah pola budidaya petani agar lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada praktik pertanian yang berkelanjutan.

Kegiatan Sekolah Lapang Tembakau tahun 2026 dilaksanakan di sejumlah wilayah sentra produksi tembakau di Bojonegoro.

Pada Selasa (9/6/2026), pelatihan berlangsung di Desa Banjarejo, Kecamatan Sumberrejo dan Desa Pandantoyo, Kecamatan Temayang.

Sementara pada Rabu (10/6/2026), kegiatan dilanjutkan di Desa Bungur, Kecamatan Kanor dan Desa Dayukidul, Kecamatan Kedungadem.

Kepala DKPP Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk membekali petani dengan kemampuan menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) atau praktik budidaya pertanian yang baik dan berkelanjutan.

Menurutnya, peningkatan kualitas hasil panen tidak hanya bergantung pada faktor cuaca atau kesuburan lahan, tetapi juga ditentukan oleh kemampuan petani dalam menerapkan teknik budidaya yang tepat sejak awal proses produksi.

“Melalui Sekolah Lapang Tembakau, kami ingin meningkatkan kapasitas petani baik dari sisi pengetahuan, keterampilan maupun perubahan pola pikir dalam mengelola usaha tani. Dengan penerapan GAP yang benar, produktivitas dapat meningkat, kualitas tembakau menjadi lebih baik, dan biaya produksi dapat ditekan,” ujar Zaenal Fanani.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi yang lengkap dan aplikatif.

Mulai dari teknik persemaian, pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman, pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), hingga penanganan pasca panen yang berpengaruh besar terhadap mutu tembakau.

DKPP menilai bahwa keberhasilan budidaya tembakau harus dipersiapkan secara menyeluruh sejak tahap awal.

Kesalahan pada salah satu tahapan dapat berdampak terhadap kualitas dan nilai jual hasil panen.

“Budidaya tembakau yang berhasil tidak hanya ditentukan saat tanaman berada di lahan. Tahapan persemaian, pemeliharaan, pengendalian hama hingga proses pasca panen memiliki peran yang sama pentingnya dalam menghasilkan tembakau berkualitas tinggi,” tambahnya.

Selain meningkatkan kemampuan teknis petani, Sekolah Lapang juga menjadi media transfer teknologi pertanian modern yang lebih hemat biaya, ramah lingkungan, dan mampu meningkatkan efisiensi usaha tani.

Melalui program ini, DKPP berharap para petani dapat mengadopsi metode budidaya yang lebih maju sehingga mampu menghasilkan produk tembakau dengan kualitas yang lebih baik dan memiliki daya saing tinggi di pasar.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu penopang ekonomi daerah.

Dengan kualitas petani yang semakin baik, Bojonegoro diharapkan mampu mempertahankan bahkan meningkatkan posisinya sebagai salah satu daerah penghasil tembakau unggulan di Jawa Timur.

Sekolah Lapang Tembakau juga menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam mendampingi petani Bojonegoro menghadapi berbagai tantangan pertanian modern, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan dan kesejahteraan bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor tembakau. (aj)