Beranda Hukrim Istri Nyaris Pingsan, Begini Kronologi Penangkapan Oknum Kiai Cabul di Ponorogo

Istri Nyaris Pingsan, Begini Kronologi Penangkapan Oknum Kiai Cabul di Ponorogo

IMG 20260519 WA0033

PONOROGO – Jagat media sosial mendadak gempar oleh beredarnya video penangkapan seorang oknum kiai pimpinan salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo.

Tokoh agama asal Ponorogo yang seharusnya menjadi teladan tersebut diduga kuat melakukan aksi pencabulan terhadap belasan santri laki-lakinya.

Aparat kepolisian Ponorogo langsung bergerak cepat mendatangi kediaman pelaku setelah menerima laporan dari warga.

Momen penjemputan paksa ini pun terekam kamera dan viral di berbagai platform digital, salah satunya diunggah oleh akun TikTok @irfanrearo pada Senin (18/5/2026).

“Detik-detik penjemputan kiai di pondok Jambon, Ponorogo karena kasus pencabulan santri,” tulis narasi dalam video viral tersebut.

Dalam video berdurasi singkat itu, sang oknum kiai tampak keluar rumah mengenakan kaus oranye dan peci putih saat berhadapan dengan petugas.

Suasana kian dramatis ketika seorang wanita berjilbab hitam yang diduga keluarga pelaku tampak syok berat hingga nyaris pingsan melihat penangkapan tersebut.

Kasatreskrim Polres Ponorogo, AKP Imam Mujali, membenarkan adanya operasi penangkapan ini.

Pihaknya bergerak setelah mendapat aduan masyarakat melalui hotline 110.

“Benar, kami menerima informasi terkait dugaan pencabulan anak di bawah umur di lingkungan pondok. Tim langsung melakukan pengecekan ke lokasi dan saat ini kasusnya masih dalam proses pendalaman intensif,” ujar AKP Imam kepada awak media.

Fakta pilu di balik dinding pesantren ini dibongkar oleh kuasa hukum para korban, Muhammad Ihsan Nurul.

Menurut Ihsan, borok pelaku mulai tercium setelah salah satu santri memberanikan diri untuk bersuara.

Tak main-main, sejauh ini sudah ada 11 santri laki-laki yang dibawa ke Polres Ponorogo untuk dimintai keterangan medis dan psikologis.

“Semua korban adalah santri yang menetap di sana. Total ada 11 santriwan yang kami dampingi ke polres, korbannya bervariasi mulai dari anak-anak di bawah umur hingga yang sudah dewasa,” ungkap Ihsan.

Bahkan, Ihsan membeberkan bahwa korban yang kini sudah dewasa mengaku telah mengalami trauma mendalam tersebut sejak mereka masih berusia remaja.

Ihsan menjelaskan bahwa oknum kiai tersebut memanfaatkan posisinya sebagai pimpinan tertinggi di ponpes untuk mengintimidasi korban.

Awalnya, para santri diumpan dengan fasilitas sekolah gratis agar tertarik mondok di sana.

Begitu korban menetap, pelaku mulai melancarkan siasatnya dengan dalih kelelahan.

“Modus klasiknya adalah menyuruh santri masuk ke kamarnya untuk memijat. Dari sanalah tindakan pelecehan itu dimulai,” pungkas Ihsan.

Kasus kelam ini kembali menambah daftar panjang rentetan kekerasan seksual di lembaga pendidikan keagamaan yang kian meresahkan masyarakat.

Pihak kepolisian menegaskan akan mengusut tuntas kasus ini demi keadilan para korban. (to)