Beranda Daerah Transformasi Pendidikan, SMP Mudipat Porong Pasuruan Fokus Disiplin Positif

Transformasi Pendidikan, SMP Mudipat Porong Pasuruan Fokus Disiplin Positif

IMG 20251228 WA0006

PASURUAN – Menjawab tantangan dunia pendidikan yang semakin dinamis, SMP Muhammadiyah 4 Boarding School Porong (SMP Mudipat) terus melakukan transformasi.

Melalui School Workshop yang digelar pada 23–24 Desember 2025 di Prigen, Kabupaten Pasuruan, sekolah ini menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan pesantren yang unggul secara akademik sekaligus kuat dalam pembentukan karakter.

Mengangkat tema “Future Classroom and Human Touch”, kegiatan ini diikuti oleh seluruh ustadz, ustadzah, serta tenaga kependidikan.

Salah satu materi yang menjadi perhatian utama adalah Transformasi Disiplin Positif, yang disampaikan oleh Wulan Ari Handayani, S.Pd., M.Pd., praktisi sekaligus fasilitator pendidikan karakter.

Dalam pemaparannya, Wulan menekankan bahwa disiplin sejati tidak tumbuh dari rasa takut, melainkan dari kesadaran dan kontrol diri santri.

Ia membedakan disiplin konvensional yang mengandalkan hukuman dan hadiah dengan disiplin positif yang berfokus pada tanggung jawab jangka panjang.

“Dalam disiplin positif, guru tidak lagi bertindak sebagai penghukum, tetapi sebagai pendamping yang membantu santri memahami kesalahan dan menemukan solusi yang bertanggung jawab,” jelasnya.

Salah satu pendekatan utama yang dikenalkan adalah restitusi, sebuah metode yang mengajak santri merefleksikan kesalahan berdasarkan kebutuhan dasar manusia.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibanding hukuman, karena mendorong dialog, empati, serta kesadaran diri.

Melalui restitusi, kesalahan tidak berhenti pada rasa bersalah, melainkan menjadi titik awal perubahan perilaku yang lebih baik.

Selain itu, para pendidik juga dibekali cara menyusun Keyakinan Kelas, yakni kesepakatan nilai bersama yang menggantikan aturan kaku.

Nilai-nilai seperti saling menghormati, rasa aman, dan tanggung jawab menjadi fondasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat secara emosional.

Penggunaan bahasa positif pun ditekankan sebagai strategi membangun motivasi intrinsik santri, sehingga proses belajar terasa lebih aman, nyaman, dan bermakna.

Kepala SMP Mudipat Boarding School Porong, Rozaq Akbar, menegaskan bahwa disiplin positif selaras dengan visi pendidikan pesantren yang menumbuhkan kesadaran, bukan sekadar kepatuhan.

“Di Mudipat, santri tidak hanya diajarkan mana yang benar dan salah. Mereka dibimbing untuk memahami alasan di balik nilai-nilai tersebut,” ujarnya.

Dia menambahkan, santri tidak sekedar menerima konsekuensi, tetapi diajak bertanggung jawab dan memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki diri.

“Inilah pendidikan karakter yang kami bangun, taat bukan karena diawasi, tetapi karena nilai itu sudah menjadi bagian dari dirinya,” tambahnya.

Workshop ini sekaligus memperkuat tiga pilar utama pengembangan sekolah, yakni Disiplin Positif, Penguatan Karakter Guru, dan Pembelajaran Kontekstual.

Ketiganya menjadi fondasi pengembangan future classroom SMP Mudipat, di mana teknologi berfungsi sebagai pendukung, sementara sentuhan kemanusiaan tetap menjadi inti pendidikan.

Langkah peningkatan kualitas ini menjadi bukti tanggung jawab SMP Mudipat dalam menjaga kepercayaan masyarakat.

Sebagai salah satu pesantren favorit di Sidoarjo, sekolah menyadari bahwa tingginya minat masyarakat harus sejalan dengan peningkatan mutu layanan dan keteladanan pendidik.

Menutup rangkaian kegiatan di Prigen, SMP Mudipat Boarding School Porong menatap tahun 2026 dengan optimisme baru, menegaskan bahwa pendidikan terbaik lahir dari perpaduan ilmu, karakter, dan ketulusan hati. (smt)