KOTA BATU – Menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu.
Kesadaran itulah yang menjadi pesan utama dalam Diskusi Sosio-Ekologi Hulu-Hilir yang digelar di Gedung Simon Stock, Kota Batu, Kamis (25/6/2026) malam, sebagai bagian dari rangkaian Greenation 2026 bertema “Garis Hijau”.
Forum tersebut mempertemukan berbagai kalangan, mulai dari akademisi, komunitas lingkungan, pemerintah, seniman, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum.
Mereka berdiskusi mengenai berbagai tantangan ekologis yang dihadapi Kota Batu sekaligus merumuskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Sebelum diskusi berlangsung, peserta diajak menyaksikan film dokumenter “Songgoriti”, hasil riset kolaboratif yang mengangkat perubahan sosial, perkembangan pariwisata, serta dampaknya terhadap kondisi lingkungan di kawasan Songgoriti.
Film tersebut menggambarkan bagaimana pembangunan dan perubahan fungsi ruang dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem.
Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya, Anton Novianto, menjelaskan bahwa perubahan lingkungan selalu berjalan beriringan dengan perubahan sosial dan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, cara masyarakat memanfaatkan dan memaknai ruang hidup akan menentukan masa depan kawasan tersebut.
Diskusi kemudian mengerucut pada isu penting mengenai keberlanjutan sumber mata air di Kota Batu.
Para peserta menilai kawasan hulu memiliki peran vital sebagai penyangga kehidupan masyarakat sekaligus wilayah hilir yang bergantung pada pasokan air.
Perwakilan Komunitas Saber Pungli Sungai, Herman Aga, mengingatkan bahwa hasil kajian dan pemantauan lapangan menunjukkan sumber daya air di Kota Batu memerlukan perhatian serius.
Ia menegaskan, persoalan mata air bukan sekedar isu lingkungan, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat.
Karena itu dibutuhkan kajian yang lebih mendalam serta kolaborasi lintas sektor agar kebijakan yang diambil benar-benar tepat dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu, Dian Fachroni, mengatakan pendekatan pelestarian lingkungan harus mampu melibatkan lebih banyak ruang partisipasi masyarakat.
Menurutnya, penyampaian pesan lingkungan tidak cukup dilakukan melalui pendekatan formal, tetapi juga dapat dikemas melalui seni, budaya, fotografi, film, hingga ruang diskusi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dia menegaskan Greenation menjadi wadah yang mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas, seniman, dan generasi muda untuk bersama-sama membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Dian juga menekankan bahwa Pemerintah Kota Batu membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan kritik maupun masukan yang membangun.
Menurutnya, kritik yang disampaikan secara konstruktif justru menjadi energi penting dalam menyusun kebijakan lingkungan yang lebih baik dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Diskusi ini merupakan salah satu rangkaian Greenation 2026 yang lahir dari kolaborasi Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu bersama berbagai komunitas, pegiat seni, akademisi, serta anak-anak muda.
Tema “Garis Hijau” diangkat sebagai simbol kepatuhan lingkungan sekaligus ajakan bagi masyarakat untuk merefleksikan dampak setiap tindakan terhadap masa depan bumi.
Selama Juni 2026, Greenation menghadirkan beragam kegiatan edukatif dan kolaboratif.
Kegiatan diawali dengan aksi Jumat Bersih Asri di Kali Kebo dan kawasan mata air Belik Tanjung yang dihadiri Wali Kota Batu.
Program kemudian dilanjutkan dengan edukasi pemilahan sampah bagi anak usia dini melalui dongeng interaktif, pengenalan kendaraan pembersih jalan otomatis Green Former, pameran seni instalasi “Tanah Air”, pameran fotografi, Adiwiyata Camp, diskusi publik, hingga Anugerah Lingkungan Hidup Kota Batu sebagai puncak acara.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Greenation 2026 diharapkan mampu memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, memperluas praktik-praktik baik, sekaligus mempererat kolaborasi berbagai elemen untuk menciptakan Kota Batu yang lebih hijau, lestari, dan berkelanjutan.
Pesan yang ingin dibangun sederhana namun bermakna, yakni bahwa setiap langkah kecil seperti menjaga kebersihan sungai, mengurangi sampah, melindungi mata air, hingga aktif berdialog tentang lingkungan merupakan investasi besar bagi masa depan generasi mendatang.
Sebab pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya tentang merawat alam, tetapi juga tentang mewariskan kehidupan yang lebih baik bagi anak cucu di masa depan. (fur)

























