LAMONGAN – Suasana Pendopo Lokatantra, Lamongan, Rabu (29/4/2026), dipenuhi haru sejak pagi hari.
Isak tangis bercampur doa mengiringi langkah ribuan jamaah haji asal Lamongan yang bersiap menunaikan rukun Islam kelima.
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, secara langsung melepas keberangkatan 1.722 jamaah yang terbagi dalam lima kelompok terbang (kloter).
Momentum ini menjadi awal dari rangkaian pemberangkatan jamaah haji Lamongan tahun 2026.
Pelukan hangat keluarga, lambaian tangan, hingga doa yang dipanjatkan bersama menciptakan suasana emosional yang sulit dilupakan.
Banyak jamaah tak kuasa menahan air mata saat berpamitan.
“Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan panggilan suci yang telah lama dinanti. Berangkatlah dengan hati yang bersih, dan pulanglah sebagai haji yang mabrur,” ujar Bupati yang akrab disapa Pak Yes, saat melepas kloter 30 dan 31.
Tahun ini, jumlah jamaah haji Lamongan mencapai 2.758 orang.
Angka tersebut mengalami peningkatan signifikan dibanding musim haji sebelumnya.
“Kenaikan ini menjadi tanda bahwa kondisi ekonomi masyarakat semakin baik. Ini patut kita syukuri bersama,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Lamongan, Abdul Ghofur, menjelaskan bahwa total terdapat delapan kloter yang disiapkan, mulai dari kloter 30 hingga 37.
Pada hari pertama pemberangkatan, lima kloter diberangkatkan secara bertahap, yakni kloter 30 sebanyak 222 jamaah, kloter 31 berjumlah 376 jamaah, kloter 32 dan 33 masing-masing 375 jamaah, serta kloter 34 dengan 374 jamaah. Tiga kloter berikutnya dijadwalkan menyusul.
Pelaksanaan haji tahun ini juga mengusung konsep “Haji Ramah Lansia, Disabilitas dan Perempuan”.
Berbagai skema seperti murur dan tanazul diterapkan guna memberikan kemudahan, terutama bagi jamaah lanjut usia.
Selain itu, dukungan layanan juga diperkuat dengan kehadiran petugas PPIH, tenaga medis, hingga pembimbing ibadah yang mendampingi setiap rombongan.
“Kami memastikan seluruh kebutuhan jamaah terpenuhi, mulai dari kesehatan, keamanan, hingga bimbingan ibadah, agar mereka bisa fokus menjalankan ibadah dengan khusyuk,” tegas Abdul Ghofur.
Di balik ribuan jamaah yang berangkat, tersimpan kisah mengharukan.
Jamaah tertua tercatat berusia 90 tahun, sementara yang termuda baru berusia 17 tahun.
Perbedaan usia itu menyatu dalam satu tujuan yang sama: bersujud di Tanah Suci.
Dari Pendopo Lokatantra, doa-doa pun mengalir. Harapan besar disematkan agar seluruh jamaah diberikan keselamatan, kelancaran dalam beribadah, serta kembali ke tanah air dengan membawa keberkahan bagi keluarga dan daerah. (as)

























