Beranda Daerah Pengrajin Bambu di Bojonegoro Curhat Soal Modal dan Pemasaran ke Cantika Wahono

Pengrajin Bambu di Bojonegoro Curhat Soal Modal dan Pemasaran ke Cantika Wahono

IMG 20260624 WA0002

BOJONEGORO – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, mengajak seluruh kader PKK untuk mengambil peran aktif dalam menyukseskan berbagai program prioritas pemerintah daerah.

Mulai dari Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri), percepatan penurunan angka stunting, hingga upaya mewujudkan kawasan bebas asap rokok menjadi fokus yang harus didukung bersama.

Ajakan tersebut disampaikan saat kegiatan pembinaan Tim Penggerak PKK di Desa Gapluk, Kecamatan Purwosari, Selasa (23/6/2026).

Menurut Cantika, seluruh program tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni membangun keluarga yang sehat, mandiri, dan berkualitas sebagai fondasi utama kemajuan Kabupaten Bojonegoro.

Dalam kesempatan itu, Cantika menegaskan bahwa stunting masih menjadi persoalan yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.

Karena itu, peran kader PKK di tingkat desa hingga keluarga dinilai sangat penting untuk memastikan upaya pencegahan berjalan optimal.

Ia menjelaskan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari memastikan ibu hamil rutin memeriksakan kesehatan, balita aktif mengikuti kegiatan posyandu, hingga pemenuhan kebutuhan gizi dan protein bagi anak-anak.

Selain itu, penerapan pola asuh yang baik dan lingkungan yang sehat juga menjadi faktor penting dalam memutus rantai stunting.

“Masalah stunting ini seperti rantai yang harus diputus bersama. Karena itu, semua elemen masyarakat perlu terlibat agar anak-anak Bojonegoro dapat tumbuh sehat dan optimal,” ujarnya.

Usai memberikan pembinaan kepada para kader, Cantika Wahono melanjutkan kunjungan dengan menyapa langsung pelaku usaha mikro di Desa Gapluk.

Salah satunya adalah Suwati, pengrajin anyaman bambu yang telah menjalankan usaha warisan keluarga secara turun-temurun.

Beragam produk kerajinan berhasil dihasilkan, mulai dari anting, rinjing, hingga besek dengan harga jual berkisar antara Rp15 ribu sampai Rp50 ribu per unit.

Namun, keterbatasan tenaga kerja dan pasokan bahan baku bambu masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan usaha tersebut.

Saat berdialog, Suwati mengungkapkan bahwa pemasaran produknya masih terbatas pada warga sekitar dan beberapa desa tetangga.

Dia berharap ada dukungan permodalan serta akses pemasaran yang lebih luas agar kerajinan bambu khas daerah dapat berkembang dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Tak hanya menyerap aspirasi pelaku UMKM, Cantika juga meninjau langsung perkembangan Program Gayatri di rumah Lilik Indrawati, salah satu penerima manfaat program tersebut.

Berkat bantuan yang diterima, Lilik kini berhasil mengembangkan usaha peternakan ayam petelur miliknya.

Saat ini, ia memelihara 54 ekor ayam petelur dengan produksi telur mencapai 44 hingga 45 butir setiap hari.

Hasil tersebut dinilai cukup membantu menambah pendapatan keluarga dan meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga.

Lilik mengaku bersyukur karena program tersebut memberikan manfaat nyata bagi keluarganya.

Meski demikian, ia berharap harga telur dapat kembali membaik di tengah kenaikan harga pakan yang terus menambah biaya produksi peternak.

Kunjungan tersebut menunjukkan bahwa Program Gayatri tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan keluarga, tetapi juga mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Melalui penguatan ekonomi keluarga, pemberdayaan UMKM, serta upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, TP PKK Bojonegoro terus berupaya mewujudkan keluarga yang sehat, produktif, mandiri, dan berdaya saing. (aj)