MEDIA CAHAYA BARU – Nama Raden Wijaya memiliki tempat istimewa dalam perjalanan sejarah Nusantara.
Sebagai pendiri Kerajaan Majapahit, sosoknya dikenal sebagai tokoh yang berhasil meletakkan fondasi salah satu kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Indonesia.
Namun di balik besarnya nama tersebut, kondisi makam yang diyakini berkaitan dengan Raden Wijaya kini menjadi perhatian karena dinilai membutuhkan perawatan yang lebih optimal.
Dalam berbagai catatan sejarah, Raden Wijaya disebut memiliki garis keturunan yang kuat dengan keluarga kerajaan Singhasari.
Ia dikenal sebagai putra Raden Lembu Tal, cucu Mahisa Campaka atau Narasinghamurti, serta cicit Mahisa Wongateleng yang merupakan keturunan langsung dari Ken Arok dan Ken Dedes, dua tokoh besar yang berpengaruh dalam sejarah Jawa kuno.
Latar belakang itulah yang menjadikan Raden Wijaya memiliki legitimasi kuat dalam perjalanan politik pada masanya hingga akhirnya mendirikan Kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan yang kemudian berkembang menjadi kekuatan besar dan berpengaruh di kawasan Nusantara.
Selain dikenal sebagai pemimpin dan pendiri kerajaan, kehidupan keluarga Raden Wijaya juga menjadi bagian penting dalam sejarah Majapahit.
Permaisuri utamanya adalah Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari.
Dia juga menikahi Indreswari, putri Melayu yang melahirkan Jayanagara, raja kedua Majapahit.
Sementara dari pernikahannya dengan Sri Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri atau Gayatri Rajapatni, lahir dua putri yang kelak memainkan peran penting dalam perjalanan kerajaan, yakni Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Rajadewi Maharajasa.
Meski sejumlah sumber sejarah memiliki perbedaan penafsiran terkait silsilah maupun beberapa aspek kehidupan Raden Wijaya, satu hal yang tidak terbantahkan adalah perannya sebagai pendiri Majapahit yang membawa Nusantara memasuki salah satu periode paling berpengaruh dalam sejarah bangsa.
Karena itu, keberadaan situs yang diyakini menjadi tempat peristirahatan terakhir Raden Wijaya memiliki nilai historis yang sangat tinggi.
Situs tersebut bukan hanya menjadi simbol penghormatan kepada tokoh besar masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Perhatian terhadap situs bersejarah dinilai penting agar jejak peradaban yang pernah membentuk perjalanan bangsa tidak hilang ditelan waktu.
Perawatan yang baik juga dapat mendukung upaya pelestarian sejarah sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Merawat makam tokoh sejarah seperti Raden Wijaya bukan hanya menjaga bangunan fisik.
Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan warisan pemikiran para pendahulu yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan Nusantara.
Sebagaimana sering diungkapkan para budayawan dan pemerhati sejarah, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.
Oleh karena itu, pelestarian situs-situs bersejarah, termasuk makam yang berkaitan dengan Raden Wijaya, menjadi tanggung jawab bersama agar nilai-nilai sejarah dan budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (aj)

























