Beranda Infotaiment Napak Tilas Kartini di Rembang, Dari Makam Sunyi Lahir Semangat Emansipasi

Napak Tilas Kartini di Rembang, Dari Makam Sunyi Lahir Semangat Emansipasi

IMG 20260420 WA0019

REMBANG – Di balik peringatan Hari Kartini setiap 21 April, tersimpan sebuah destinasi bersejarah di Rembang yang tak pernah kehilangan makna, yakni makam Raden Ajeng Kartini.

Terletak di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang sekitar 17,5 kilometer dari pusat Rembang, kompleks pemakaman ini menjadi ruang hening yang menyimpan jejak perjuangan seorang tokoh perempuan yang mengguncang zamannya.

Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879 dan wafat di usia muda pada 17 September 1904.

Meski hidupnya singkat, pemikiran dan gagasannya tentang pendidikan serta kesetaraan perempuan terus hidup dan relevan hingga kini.

Di kompleks tersebut, Kartini tidak dimakamkan sendiri. Di sampingnya, terdapat pusara sang suami, Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, serta putra semata wayangnya, Soesalit Djojoadhiningrat.

Kawasan ini juga menjadi tempat peristirahatan keluarga besar Bupati Rembang pada masa R.M.A.A. Djoyodiningrat.

Suasana di area makam terasa tenang, asri, dan terawat. Namun setiap peringatan Hari Kartini, tempat ini berubah menjadi lautan peziarah.

Ribuan orang, mulai dari pelajar, wisatawan, hingga pejabat, datang untuk berdoa sekaligus mengenang perjuangan Kartini.

Kunjungan ke makam ini menjadi momen refleksi, banyak pengunjung mencoba menyerap kembali nilai-nilai perjuangan Kartini, khususnya dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan Indonesia.

Menariknya, kawasan sekitar makam kini telah berkembang menjadi destinasi wisata edukatif.

Beragam kuliner khas daerah tersaji di kios-kios sekitar, lengkap dengan cenderamata bernuansa budaya lokal.

Mulai dari batik, kerajinan tangan, hingga buku-buku tentang Kartini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Fakta unik lainnya, Kartini memiliki tanggal lahir yang sama dengan tokoh penting bangsa, yakni Radjiman Wedyodiningrat, yang juga lahir pada 21 April 1879.

Sebuah kebetulan yang seolah menegaskan lahirnya tokoh-tokoh besar dalam satu tanggal bersejarah.

Kini, berkunjung ke makam Kartini bukan hanya perjalanan wisata biasa.

Setiap langkah di kompleks tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai.

Semangat emansipasi yang pernah diperjuangkan Kartini tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini untuk terus melangkah maju. (aj)