Beranda Daerah Dari Tari Sufi hingga Rampak Oklik, HJB ke-348 Bojonegoro Pecahkan Rekor

Dari Tari Sufi hingga Rampak Oklik, HJB ke-348 Bojonegoro Pecahkan Rekor

Ea5b4e50 ed0d 4ca6 a931 6435a2beeb6c

BOJONEGORO – Puncak perayaan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348 berlangsung megah dan penuh makna di Alun-Alun Bojonegoro, Senin (20/10/2025).

Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan dua penampilan spektakuler yang mengguncang panggung utama: Tari Kolosal “Bojonegoro Gemilang” dan Senam Kolosal Semaphore yang melibatkan hampir dua ribu peserta Pramuka.

Kemeriahan dimulai usai upacara resmi HJB, saat panggung terbuka menampilkan Tari Kolosal “Bojonegoro Gemilang”, karya yang mengisahkan perjalanan panjang masyarakat Bojonegoro dalam harmoni tradisi, spiritualitas, dan disiplin.

Tarian ini menjadi simbol semangat kebersamaan menuju Bojonegoro yang maju dan mandiri.

Sebanyak 348 penari ambil bagian dalam pertunjukan ini, terdiri dari siswa-siswi SMP/MTs, SMA/SMK/MA se-Kabupaten Bojonegoro, Paguyuban Jaranan dan Reog Bojonegoro, TNI Cilik binaan Kodim 0813 Bojonegoro, Komunitas Tari Sufi, serta Grup Hadrah Al-Falab.

Gabungan para penari muda dan komunitas seni ini menjadikan pertunjukan terasa begitu hidup, berenergi, dan menggugah.

Tarian dibuka dengan “Tari Tangsil”, yang menggambarkan semangat gotong royong masyarakat Bojonegoro.

Dilanjutkan dengan “Rampak Oklik”, di mana dentuman musik bambu khas Bojonegoro menggema, menandakan denyut nadi kehidupan rakyat yang giat bekerja dan berkarya.

Tak berhenti di situ, penampilan “Dadak Merak” menghadirkan kemegahan warna-warni budaya Nusantara, disusul formasi PBB TNI Cilik yang menunjukkan kedisiplinan dan nasionalisme sejak dini.

Puncak keindahan tersaji dalam “Tari Sufi” gerak berputar yang penuh makna spiritual, melambangkan ketulusan dan pengabdian kepada Sang Pencipta.

Semua elemen berpadu harmonis, menggambarkan perjalanan Bojonegoro dari akar tradisi menuju masa depan yang gemilang.

“Bojonegoro Gemilang bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan perayaan jiwa masyarakat atas tanah yang mereka cintai menuju Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan,” demikian pesan yang menggaung dari panggung kehormatan.

Usai tarian megah, kemeriahan berlanjut dengan Senam Kolosal Semaphore — atraksi luar biasa dari 1.961 peserta Pramuka SD dan MI se-Kecamatan Bojonegoro.

Jumlah peserta ini bukan kebetulan, melainkan simbol tahun lahirnya Gerakan Pramuka Indonesia pada 1961 semangat kepanduan yang abadi sepanjang masa.

Dengan iringan musik khas Bojonegoro, para Pramuka menampilkan gerakan serempak nan disiplin.

Bendera Semaphore berwarna-warni melambai dalam formasi sempurna, menggambarkan nilai-nilai kerja sama, ketangguhan, dan kebersamaan.

Momen ini tak hanya memukau penonton, tetapi juga menjadi bukti bahwa generasi muda Bojonegoro siap melanjutkan estafet semangat kepanduan Indonesia tangguh, ceria, dan siap mengabdi untuk negeri.

Puncak perayaan HJB ke-348 tahun ini benar-benar menjadi refleksi kolaborasi lintas generasi. Dari tari hingga senam kolosal, seluruh rangkaian acara memancarkan pesan kuat: Bojonegoro maju karena kebersamaan.

Alun-Alun Bojonegoro malam itu bukan sekedar panggung perayaan, tetapi ruang ekspresi bagi seluruh elemen masyarakat untuk meneguhkan cinta, kerja, dan semangat demi Bojonegoro yang semakin gemilang, berbudaya, dan membanggakan. (aj)