BOJONEGORO – Senyum petani tembakau mulai terlihat di tengah musim panen, di Desa Kepoh, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, harga tembakau rajangan kering di tingkat petani kini bergerak di kisaran Rp35 ribu hingga Rp43 ribu per kilogram.
Harga tersebut menjadi kabar cukup menggembirakan bagi petani setelah melewati rangkaian panjang proses budidaya.
Mulai dari mengolah lahan, menanam, merawat tanaman, memetik daun, hingga merajang dan menjemurnya, semuanya membutuhkan biaya, tenaga, serta waktu.
Meski belum bisa disebut harga ideal, angka Rp43 ribu per kilogram setidaknya membuat petani sedikit bernapas lega.
Kini, harapan mereka mengarah pada petikan berikutnya, targetnya, harga tembakau bisa menembus Rp50 ribu per kilogram.
Subari, petani tembakau asal Dusun Bakalan, Desa Kepoh, Kecamatan Kepohbaru, mengatakan harga yang diterima saat ini sudah cukup baik dibandingkan sebelumnya.
Menurutnya, nilai jual tembakau sangat bergantung pada kualitas daun dan proses pengolahan setelah panen.
“Sekarang harganya sudah lumayan bagus, semoga nanti bisa naik lagi,” ujar Subari, Minggu (9/8/2026).
Bagi Subari dan petani lainnya, harga tembakau bukan hanya soal nominal yang tertera di timbangan.
Harga tersebut akan menentukan apakah biaya produksi selama satu musim bisa tertutup dengan hasil yang layak.
Saat ini, dirinya mulai memasarkan hasil petikan kedua.
Sebelum masuk proses perajangan, daun tembakau terlebih dahulu diseleksi.
Daun yang dinilai sudah cukup matang dipisahkan agar kualitas tembakau yang dihasilkan tetap sesuai dengan kebutuhan pasar.
Setelah dipilih, daun kemudian dirajang dan dikeringkan, tahapan ini menjadi salah satu penentu kualitas karena tembakau harus memiliki kondisi yang sesuai sebelum dibawa kepada pembeli.
“Daun yang dipilih harus yang sudah cukup matang. Setelah itu baru dirajang dan dikeringkan supaya hasilnya sesuai dengan kualitas yang dibutuhkan pembeli,” katanya.
Kondisi cuaca yang cenderung kering juga menjadi keuntungan bagi petani.
Proses penjemuran tembakau rajangan menjadi lebih mudah sehingga petani dapat menjaga kualitas hasil panen sebelum dijual.
Namun, musim panen masih panjang, setelah petikan kedua, petani masih harus menghadapi petikan berikutnya hingga beberapa tahap.
Pergerakan harga pada setiap petikan pun terus menjadi perhatian.
Mereka berharap harga tidak kembali melemah ketika memasuki petikan ketiga, keempat hingga kelima.
Jika kualitas daun tetap bagus dan permintaan pembeli terjaga, petani berharap harga bisa semakin mendekati Rp50 ribu per kilogram.
“Kalau bisa sampai Rp50 ribu per kilogram tentu akan lebih baik bagi petani. Biaya tanam dan perawatan cukup banyak, jadi kami berharap harga terus membaik,” ujarnya.
Harapan tersebut muncul bukan tanpa alasan, ongkos produksi tembakau cukup panjang, mulai dari persiapan lahan, bibit dan penanaman, perawatan, pemetikan, hingga proses pascapanen berupa perajangan dan pengeringan.
Kenaikan harga tentu akan menjadi tambahan tenaga bagi petani untuk menghadapi biaya produksi sekaligus memberikan nilai lebih terhadap hasil kerja mereka selama satu musim.
Untuk saat ini, aktivitas di lahan tembakau Desa Kepoh masih terus berjalan.
Daun dipetik, dirajang, kemudian dijemur sebelum akhirnya dipasarkan.
Petani pun masih menunggu perkembangan harga dari para pembeli. (aj)

























