Beranda Daerah Dari Bank Sampah hingga Batik Lokal, Inovasi Warga Bojonegoro Makin Ciamik

Dari Bank Sampah hingga Batik Lokal, Inovasi Warga Bojonegoro Makin Ciamik

IMG 20260701 WA0062

BOJONEGORO – Kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat terus melahirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi warga Kabupaten Bojonegoro.

Berbagai program pemberdayaan yang berfokus pada pengelolaan lingkungan, pemanfaatan lahan pekarangan, hingga pengembangan ekonomi kreatif kini mampu menciptakan peluang usaha baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu contoh keberhasilan tersebut hadir di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.

Melalui Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH) yang mendapat pendampingan dari PT Pertamina EP Cepu (PEPC), masyarakat berhasil mengembangkan Green House Anggur, sebuah destinasi wisata edukasi petik anggur yang kini menjadi daya tarik baru di Bojonegoro.

Program ini lahir dari sinergi antara Pemerintah Desa Sendangharjo, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, dan PT Pertamina EP Cepu dalam mengoptimalkan lahan pekarangan sekaligus memperkuat pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi masyarakat.

Ketua BSMKH, Mas Ujang, menjelaskan bahwa Green House Anggur tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga menerapkan konsep ekonomi sirkular yang ramah lingkungan.

Sampah rumah tangga yang dikumpulkan warga diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman anggur.

Selain itu, sebagian limbah juga dimanfaatkan sebagai energi terbarukan, bahkan menjadi solusi pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) melalui program bank sampah yang dikelola masyarakat.

Green House Anggur tersebut membudidayakan berbagai varietas anggur premium dari sejumlah negara, di antaranya Everest dari Amerika Serikat, Ilaria dari Italia, Pottergistrum dari Austria, Malika, Cherny Crystal, dan Gosvi dari Rusia, serta Basanti dari India.

Keberagaman varietas tersebut tidak hanya menjadi daya tarik wisata petik anggur, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan petani untuk mempelajari teknik budidaya anggur unggulan yang memiliki potensi dikembangkan di Bojonegoro.

Saat menghadiri panen raya sekaligus petik perdana anggur, pada Rabu (1/7/2026), Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan kolaborasi yang mampu menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Menurutnya, keberhasilan Green House Anggur merupakan bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah desa, pemerintah kecamatan, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, dan PT Pertamina EP Cepu mampu melahirkan inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat.

“Hari ini kita menyaksikan panen anggur di Desa Sendangharjo. Ini menjadi contoh baik bagaimana kolaborasi dan pendampingan yang berkelanjutan mampu membawa BSMKH dikenal hingga tingkat internasional,” ujar Cantika Wahono.

Ia berharap keberhasilan Desa Sendangharjo dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Bojonegoro untuk mengembangkan program serupa, terutama dalam pengelolaan sampah dan pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

Selain sektor pertanian dan lingkungan, semangat pemberdayaan masyarakat juga tumbuh melalui sektor ekonomi kreatif.

Salah satu kisah sukses datang dari Afida Batik, UMKM yang dirintis Nur Afida sejak mengikuti program pemberdayaan perempuan yang diinisiasi ExxonMobil pada 2015.

Berbekal pelatihan dan semangat berwirausaha, usaha batik tersebut kini berkembang menjadi salah satu pelaku ekonomi kreatif yang konsisten memperkenalkan identitas budaya Bojonegoro melalui beragam motif khas daerah.

Nur Afida mengatakan usahanya terus berkembang berkat peningkatan keterampilan, jaringan pemasaran, dan aktivitasnya sebagai pengajar yang turut memperluas relasi usaha.

Afida Batik menghadirkan berbagai motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Bojonegoro, seperti Kayangan Api, daun jati, hingga potensi sumber daya alam lainnya.

Motif Kayangan Api menjadi produk unggulan yang paling banyak diminati karena merepresentasikan salah satu ikon wisata Kabupaten Bojonegoro.

Meski permintaan batik cenderung meningkat pada momen tertentu, terutama menjelang tahun ajaran baru, usaha tersebut mampu membukukan omzet rata-rata antara Rp15 juta hingga Rp20 juta setiap bulan.

Keberhasilan Green House Anggur BSMKH dan Afida Batik menjadi bukti bahwa program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan secara berkelanjutan mampu melahirkan inovasi, memperkuat ekonomi kerakyatan, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan terus menjadi fondasi pembangunan yang mampu mengoptimalkan potensi lokal, menciptakan lapangan usaha baru, serta mewujudkan Bojonegoro yang semakin maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan. (Pro/aj)