BOJONEGORO – Warisan budaya Sedulur Sikep atau masyarakat Samin Bojonegoro kembali menjadi perhatian publik dalam kegiatan Ngangsu Kawruh Samin yang digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Satu Dekade Samin Festival 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Balai Budaya Samin, Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (20/6/2026).
Mengusung tema “Sabare Dieling-eling, Trokale Dilakoni”, kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama untuk menggali, memahami, sekaligus merawat nilai-nilai luhur ajaran Samin yang diwariskan secara turun-temurun.
Acara diikuti berbagai kalangan, mulai akademisi, mahasiswa, guru, pegiat budaya, pemerhati masyarakat Samin hingga masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dekat filosofi hidup Sedulur Sikep.
Dalam pemaparannya, Bambang Sutrisno yang merupakan generasi kelima keturunan Samin Surosentiko menjelaskan sejarah perjuangan dan ajaran yang diwariskan leluhurnya.
Ia menuturkan bahwa gerakan Samin lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan kolonial Belanda, namun dilakukan tanpa kekerasan.
Menurut Bambang, nilai utama yang diajarkan Samin Surosentiko bukan sekedar bentuk perlawanan terhadap penjajahan, melainkan bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan menjunjung tinggi kejujuran, kesederhanaan, kebersamaan, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
“Ajaran Samin mengajarkan pentingnya hidup jujur, tidak merugikan orang lain, menjaga harmoni dengan alam, dan membangun hubungan sosial yang baik dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Dia juga menjelaskan bahwa nilai-nilai tersebut hingga kini masih relevan untuk diterapkan di tengah tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks.
Sementara itu, Kepala Desa Margomulyo, Nuryanto, menyampaikan bahwa sebagian besar ajaran luhur Mbah Surosentiko sebenarnya telah dijalankan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak selalu disadari.
“Nilai sabar, kerja keras, gotong royong, dan hidup sederhana sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tinggal bagaimana kita terus mengamalkan dan melestarikannya secara lebih baik,” kata Nuryanto.
Dirinya mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan Samin Festival yang selama satu dekade terakhir terus mengangkat tema-tema berbeda untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sedulur Sikep kepada masyarakat luas.
Menurutnya, keberadaan Dusun Jepang dan masyarakat Samin di Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro telah menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan akademisi maupun peneliti dari berbagai daerah.
Berbagai penelitian tentang kehidupan sosial, budaya, pendidikan, kesehatan hingga gotong royong masyarakat Samin terus dilakukan dan menghasilkan banyak karya ilmiah.
Nuryanto berharap hasil-hasil penelitian tersebut dapat terdokumentasi dengan baik melalui pengembangan galeri literasi maupun pusat dokumentasi budaya yang bisa dimanfaatkan generasi mendatang.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat yang memahami kehidupan Sedulur Sikep secara utuh, bukan berdasarkan stigma atau anggapan yang keliru,” ujarnya.
Kegiatan Ngangsu Kawruh Samin menjadi salah satu agenda penting dalam peringatan Satu Dekade Samin Festival 2026.
Selain menjadi sarana edukasi budaya, acara ini juga memperkuat upaya pelestarian nilai-nilai luhur warisan Samin Surosentiko agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Melalui forum diskusi dan pembelajaran bersama tersebut, peserta diajak memahami bahwa ajaran Samin bukan sekedar sejarah masa lalu, melainkan sumber kearifan lokal yang mengandung pesan tentang kejujuran, kesabaran, kerja keras, serta kehidupan yang harmonis dengan sesama manusia dan alam. (aj)

























