GOWA – Polemik dugaan perselingkuhan yang menyeret nama Bupati Gowa, Husniah Talenrang, kini berkembang menjadi isu publik yang kian memanas.
Kasus yang awalnya bersifat pribadi ini berubah menjadi perhatian luas hingga memicu aksi demonstrasi dan tuntutan transparansi dari masyarakat Gowa.
Isu ini mulai mencuat pada pertengahan Maret 2026. Seorang perempuan bernama Venny Dwi Cahyani mengaku memergoki suaminya, Wahyu Akbar yang merupakan mantan sopir pribadi Bupati Gowa bersama seorang wanita yang diduga adalah kepala daerah tersebut.
Peristiwa itu disebut terjadi di kawasan perumahan Pao-pao, Kabupaten Gowa, dan menjadi titik awal mencuatnya kabar yang kemudian viral di media sosial.
Setelah kejadian pertama, kedua belah pihak dikabarkan sempat menempuh jalur damai disertai permintaan maaf.
Namun, menurut pihak pelapor melalui kuasa hukumnya, hubungan tersebut diduga kembali terjadi.
Pihak istri sopir menilai bahwa permintaan maaf sebelumnya tidak mencerminkan penyelesaian substansial, melainkan hanya formalitas.
Seiring meluasnya isu, reaksi publik pun tak terbendung. Berbagai elemen masyarakat dan LSM turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa pada Senin, 6 April 2026.
Massa mendatangi Kantor Bupati dan Gedung DPRD Gowa, menuntut kejelasan serta sikap tegas terkait dugaan tersebut.
Demonstrasi ini menandai eskalasi kasus dari isu pribadi menjadi persoalan publik.
Menanggapi tudingan yang beredar, pihak Bupati Gowa dengan tegas membantah seluruh tuduhan.
Isu tersebut dinilai sebagai fitnah yang sengaja disebarkan untuk menjatuhkan reputasi dan merusak citra sebagai kepala daerah.
Di sisi lain, Ketua DPRD Kabupaten Gowa menyatakan bahwa pihaknya akan membawa persoalan ini ke dalam forum resmi.
Langkah ini dilakukan guna mendapatkan kejelasan serta menjawab tuntutan masyarakat terkait transparansi.
Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perbincangan hangat, baik di ruang publik maupun media sosial.
Masyarakat menantikan kejelasan fakta serta langkah konkret dari pihak terkait agar polemik tidak semakin meluas.
Situasi ini menunjukkan bagaimana isu pribadi pejabat publik dapat dengan cepat berkembang menjadi persoalan yang menyita perhatian luas, terutama ketika menyangkut kepercayaan masyarakat. (Tim Sembilan)

























