Beranda Infotaiment Ahok Nilai Aturan Pilkada Bisa Target Orang Tertentu, Pandji Ikut Disinggung

Ahok Nilai Aturan Pilkada Bisa Target Orang Tertentu, Pandji Ikut Disinggung

IMG 20260108 WA0033

JAKARTA – Linimasa media sosial sempat dibuat heboh oleh hilangnya podcast Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bersama Denny Sumargo dari kanal YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo.

Tayangan tersebut mendadak tak bisa diakses tak lama setelah rilis, sehingga memicu spekulasi publik soal dugaan takedown oleh pihak tertentu.

Podcast itu awalnya tayang pada Rabu, 7 Januari 2026, namun hanya bertahan sekitar 19 menit sebelum menghilang.

Sehari berselang, pada Kamis, 8 Januari 2026, episode tersebut kembali muncul dan dapat ditonton publik.

Dalam podcast itu, Ahok dan Denny Sumargo membahas berbagai isu sensitif, mulai dari aturan Pilkada, dinamika hukum pencalonan kepala daerah, hingga polemik kebebasan berekspresi dalam dunia komedi, termasuk menyinggung aksi panggung Pandji Pragiwaksono.

Ahok secara terbuka mengisahkan pengalamannya saat memilih mundur dari jabatan kepala daerah demi maju ke posisi yang lebih tinggi. Ia menilai, aturan saat itu justru dirancang untuk membuatnya gentar.

“Mereka bikin peraturan waktu itu, bupati yang mau jadi gubernur harus berhenti. Supaya saya takut,” ujar Ahok.

Namun, langkah tersebut justru berujung di luar dugaan.

“Dia kaget waktu saya berhenti beneran,” sambungnya.

Dalam perbincangan yang sama, Ahok mengkritik aturan Pilkada yang dinilainya berubah-ubah dan terkesan dibuat untuk menyasar individu tertentu, bukan demi kepastian hukum yang adil.

“Jangan suka bikin aturan seenaknya. Lagi mau sikat Ahok, bikin A. Begitu bukan orangnya, bikin B,” tegasnya.

Ahok mempertanyakan dasar hukum yang mewajibkannya berhenti hanya karena ingin maju dalam kontestasi politik.

“Gara-gara saya mau maju, mesti berhenti setengah tahun. Dari mana dasar hukumnya,” kata Ahok.

Ia bahkan menilai ada ketakutan pihak tertentu jika dirinya kembali terpilih.

“Ini seperti ketakutan saya bisa terpilih lagi. Kalau mau suruh berhenti, ya diputuskan dong,” ungkapnya.

Ahok juga menyinggung pengalamannya saat menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Saya ke MK malah diketawain. Tapi akhirnya MK putuskan enggak perlu berhenti. Hukum kok dibuat buat target orang tertentu,” ucapnya.

Menanggapi hal itu, Denny Sumargo menyimpulkan bahwa keputusan politik kerap diambil berdasarkan keyakinan, bukan murni kepastian hukum.

“Keputusan soal kepala daerah itu sering diambil berdasarkan keyakinan, bukan ketetapan hukum,” ujar Denny.

Topik kemudian bergeser ke dunia komedi. Ahok menyoroti keberanian Pandji Pragiwaksono dalam show stand up comedy “Mens Rea” yang belakangan ramai diperbincangkan publik.

Dengan nada bercanda, Ahok menyinggung isu kebebasan berekspresi.

“Mudah-mudahan Pandji jangan ditangkap. Saya juga aman. Kalau Pandji kena, saya bahaya,” ucap Ahok sambil tertawa.

Ahok mengaku sempat ingin menonton langsung penampilan Pandji, namun urung karena khawatir mudah dikenali publik.

“Harusnya saya datang, tapi muka saya ketahuan orang. Akhirnya saya nonton di Netflix,” katanya.

Menurut Ahok, aksi Pandji di atas panggung tergolong nekat dan berani, meski memicu pro dan kontra.

“Wah, Pandji gila sih. Nekat banget. Pasti pro kontra. Tapi saya pro banget,” tegasnya.

Ahok juga menyoroti kecerdikan Pandji yang menyelipkan disclaimer dalam materi komedinya.

“Dia pintar, pakai disclaimer ‘menurut keyakinan saya’. Ini Pandji yang ngajarin,” pungkas Ahok. (Red)