BOJONEGORO – Gaung kreativitas dan inovasi Bojonegoro menggema di Kota Malang, Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, tampil memukau sebagai narasumber dalam ajang Festival Mbois 10 (FM X) yang berlangsung di Malang Creative Center (MCC), Sabtu (8/11/2025).
Festival bergengsi ini merupakan edisi ke-10 dari gelaran kreatif terbesar di Malang Raya yang sejak 2016 menjadi ajang kolaborasi lintas sektor dan perayaan pelaku industri kreatif lokal.
Tahun ini, FM X mengusung tema “Creative City” dengan tagline “Celebrating a Decade of Innovation”, sekaligus menjadi momentum refleksi dan akselerasi ekosistem kreatif di Malang Raya.
Acara ini juga terintegrasi dengan Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, yang mengangkat tema “Nusantaraya: Dari Malang Raya untuk Nusantara.”
Kegiatan yang berlangsung pada 6–10 November 2025 ini diikuti jejaring kota dan kabupaten kreatif se-Indonesia, melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media.
Festival ini menghadirkan beragam agenda menarik seperti Kongres ICCN, Konferensi Internasional, Tur Kota, hingga Festival Nusantaraya, yang menjadi wadah kolaborasi, inovasi, dan promosi potensi daerah.
Dalam kesempatan itu, Cantika Wahono tampil percaya diri mempromosikan kekayaan budaya dan potensi lokal Bojonegoro di hadapan peserta dan pelaku ekonomi kreatif nasional.
Ia memperkenalkan Batik Bojonegoro yang kaya filosofi, sarat muatan lokal, dan memiliki sejarah panjang di setiap motifnya. Tak hanya itu, Cantika juga menyoroti potensi wisata unggulan Bojonegoro seperti Kayangan Api Abadi, Teksas Wonocolo, serta Negeri Atas Angin.
“Bojonegoro memiliki kriya berbahan kayu jati dengan ukiran khas yang sangat diminati untuk furniture, serta kuliner unik seperti serabi, nasi gulung, dan sambel ale. Semua ini bagian dari identitas kreatif Bojonegoro,” tuturnya.
Cantika Wahono juga menekankan pentingnya melibatkan anak muda dalam pengembangan industri kreatif di era modernisasi.
Menurutnya, Bojonegoro kini telah memiliki Komunitas Ekonomi Kreatif yang aktif berinovasi dan terus berupaya bersaing dari sisi kualitas, desain, dan pemasaran.
“Setiap karya harus dilindungi hak ciptanya, karena setiap motif lahir dari cipta dan rasa seni yang tinggi,” tegasnya.
Menariknya, beberapa produk kriya Bojonegoro kini sudah berhasil menembus pasar ekspor, membuktikan potensi besar Bojonegoro di kancah internasional.
“Kami di Dekranasda terus mendorong kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku industri kreatif agar semakin berkembang,” tambahnya.
Lebih lanjut, Cantika Wahono menuturkan bahwa Dekranasda Bojonegoro saat ini fokus meningkatkan kualitas wastra lokal, khususnya batik bermotif khas seperti daun jati, salak, padi, hingga motif terinspirasi destinasi wisata.
“Kami rutin mengadakan pelatihan dan lomba desain batik untuk anak muda, serta menggelar event tahunan Wastra Batik Festival Bojonegoro. Ini menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk ikut berperan dalam ekonomi kreatif,” jelasnya.
Cantika menegaskan, Dekranasda Bojonegoro berkomitmen memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dengan terus hadir dalam berbagai event nasional dan internasional, membawa nama Bojonegoro ke panggung yang lebih luas.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, kehadiran Cantika Wahono di Festival Mbois 10 menjadi bukti nyata bahwa Bojonegoro tidak hanya kaya potensi, tetapi juga siap menjadi bagian penting dalam peta ekonomi kreatif nasional.
Dari batik, kriya, wisata, hingga kuliner semua menunjukkan satu hal, Bojonegoro punya segudang karya yang layak mendunia. (Pro/aj)

























