Beranda Daerah Puncak Festival Ledre Bojonegoro 2026 Libatkan 59 Pengrajin, Ada Apa

Puncak Festival Ledre Bojonegoro 2026 Libatkan 59 Pengrajin, Ada Apa

BOJONEGORO – Festival Ledre 2026 di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, mulai bergulir.

Bukan hanya festival kuliner, kegiatan ini diarahkan menjadi ruang untuk melahirkan generasi baru pengrajin sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sarasehan dan pelatihan pembuatan ledre bagi calon wirausaha baru.

Sebanyak 22 peserta yang seluruhnya merupakan ibu-ibu mengikuti pelatihan tersebut.

Para peserta mendapatkan pembekalan langsung mengenai proses pembuatan ledre, mulai dari menyiapkan dan mengolah bahan hingga teknik menggulung ledre.

Proses tersebut membutuhkan ketelitian, ketekunan, keuletan, serta ketepatan waktu agar menghasilkan ledre dengan kualitas yang baik.

Pelatihan tidak hanya berorientasi pada kemampuan produksi.

Peserta juga diajak melihat ledre sebagai produk yang memiliki potensi ekonomi dan dapat dikembangkan menjadi usaha mandiri.

Dengan demikian, Festival Ledre 2026 diharapkan mampu mendorong semakin banyak masyarakat untuk tidak hanya mengenal ledre sebagai makanan tradisional, tetapi juga memiliki keterampilan untuk memproduksi dan memasarkannya.

Camat Purwosari Ike Widyaningrum mengatakan, Festival Ledre menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali ledre sebagai salah satu kuliner khas Bojonegoro, khususnya kepada generasi muda.

Menurutnya, keberlangsungan ledre tidak cukup hanya mengandalkan pengrajin yang sudah ada.

Regenerasi perlu dilakukan agar keterampilan membuat ledre tetap diwariskan dan dapat terus berkembang.

“Kami berharap melalui kegiatan ini semakin banyak generasi muda dan calon wirausaha baru yang tertarik untuk belajar membuat ledre. Ledre bukan hanya makanan tradisional, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang bisa dikembangkan menjadi usaha,” ujar Ike.

Ia menilai Kecamatan Purwosari memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekosistem ledre melalui kolaborasi antara pengrajin, pemerintah, dunia pendidikan, pelaku UMKM, dan masyarakat.

“Yang ingin kami bangun bukan hanya bagaimana ledre tetap ada, tetapi bagaimana ledre bisa berkembang, dikenal lebih luas, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, inovasi dan regenerasi pengrajin harus berjalan bersama,” jelasnya.

Sarasehan bertajuk “Ledre Bojonegoro” digelar di Aula SMK Purwosari. Forum tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari guru dan siswa dari wilayah Purwosari, Padangan dan Kasiman, pemerintah kecamatan, lembaga swadaya masyarakat, perangkat daerah, hingga pelaku UMKM ledre.

Pertemuan tersebut menjadi wadah bertukar pengalaman sekaligus membahas masa depan usaha ledre dari berbagai perspektif.

Tidak hanya berbicara tentang teknik produksi, peserta juga mendiskusikan bagaimana ledre dapat terus bertahan di tengah perubahan selera konsumen dan perkembangan pasar.

Ike mengatakan, ledre memiliki posisi penting karena bukan hanya bagian dari kuliner tradisional, tetapi juga melekat dengan identitas daerah.

Karena itu, upaya pelestarian perlu berjalan beriringan dengan inovasi.

Sejumlah pengrajin bahkan mulai mengembangkan varian ledre di luar rasa original yang menggunakan pisang raja.

Kini muncul berbagai pilihan rasa seperti matcha, taro, stroberi, cokelat dan varian lainnya.

Inovasi bahkan merambah ke produk minuman, pemuda di Kecamatan Purwosari disebut telah mengembangkan sajian kopi ledre sebagai bentuk kreativitas dalam mengolah potensi kuliner lokal.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ledre memiliki peluang untuk dikemas dengan pendekatan yang lebih kekinian tanpa meninggalkan karakter sebagai makanan khas Bojonegoro.

Rangkaian Festival Ledre 2026 masih akan berlanjut hingga Kamis, 8 Oktober 2026.

Sejumlah agenda utama telah disiapkan untuk menutup rangkaian kegiatan tersebut.

Puncak Festival Ledre 2026 akan diisi dengan launching Kampung Ledre, peluncuran e-book tentang ledre, serta pembuatan ledre secara massal yang melibatkan 59 pengrajin.

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat posisi ledre sebagai salah satu produk unggulan daerah.

Festival Ledre 2026 diarahkan untuk mendorong regenerasi pengrajin, membuka kesempatan bagi calon wirausaha baru, serta memperluas inovasi produk ledre agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Dengan dukungan pemerintah, dunia pendidikan, pelaku UMKM, pengrajin dan masyarakat, ledre diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan kuliner, tetapi juga tumbuh menjadi produk bernilai ekonomi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat Bojonegoro. (aj)

Artikel sebelumyaFARKES KSPI Ungkap Tantangan Penyelesaian Sengketa Hubungan Industrial
Artikel berikutnyaAda Peluang MBG, Peternak Ayam Bojonegoro Diminta Tak Lewatkan Kesempatan