MEDIA CAHAYA BARU – Presiden RI Prabowo Subianto bertolak ke Washington DC, Amerika Serikat, Senin (16/2/2026), menggunakan pesawat Garuda Indonesia dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma.
Kunjungan kerja ini menjadi bagian dari langkah diplomasi langsung yang difokuskan pada penguatan hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat.
Dalam lawatan strategis tersebut, Presiden Prabowo didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Di Washington DC, Presiden Prabowo dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pertemuan ini diproyeksikan membahas penguatan kerja sama strategis kedua negara, terutama di sektor perdagangan, investasi, energi, serta peningkatan produktivitas industri nasional.
Salah satu agenda paling dinanti adalah rencana penandatanganan agreement on reciprocal trade (ART) atau kesepakatan tarif dagang timbal balik antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Kesepakatan tersebut disebut akan diteken di sela kunjungan Presiden Prabowo ke AS, termasuk dalam rangka menghadiri forum Board of Peace pada 19 Februari 2026.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa tarif ekspor produk Indonesia ke Amerika Serikat telah mengalami penurunan signifikan.
Dari sebelumnya sebesar 32 persen, kini turun menjadi 19 persen.
Namun, pemerintah masih menahan diri untuk mengungkap detail lengkap mengenai struktur tarif dalam kesepakatan yang sedang difinalisasi tersebut.
Airlangga meminta publik bersabar hingga seluruh proses negosiasi resmi rampung.
Rapat Tertutup di Hambalang Sebelum Keberangkatan
Menjelang keberangkatan ke AS, Presiden Prabowo terlebih dahulu menggelar rapat terbatas bersama jajaran menteri bidang ekonomi di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Minggu (15/2/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah menteri strategis, di antaranya, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Momen rapat ini turut dibagikan melalui unggahan Instagram resmi Sekretariat Kabinet, menandakan soliditas tim ekonomi sebelum Presiden menjalankan misi diplomasi luar negeri.
Kunjungan ini dinilai sebagai langkah aktif Presiden Prabowo dalam memperkuat rantai pasok global Indonesia, membuka peluang investasi baru, serta memastikan kepastian dagang yang lebih menguntungkan bagi pelaku industri dalam negeri.
Pertemuan dengan Presiden Trump bukan sekedar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi besar pemerintah dalam menjaga daya saing ekspor nasional dan memperluas akses pasar Amerika Serikat.
Jika kesepakatan ART benar-benar diteken, maka kerja sama dagang RI–AS diperkirakan memasuki babak baru dengan peluang peningkatan volume perdagangan yang lebih besar.
Publik kini menanti hasil konkret dari diplomasi tingkat tinggi tersebut. (dpw)

























