BOJONEGORO – Pemkab Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) terus tancap gas memperluas pemahaman petani soal Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Program perlindungan ini menjadi tameng penting bagi petani agar tetap aman secara modal ketika menghadapi risiko gagal panen.
Kepala Bidang Sarana, Prasarana, dan Perlindungan Tanaman DKPP Bojonegoro, Yuni Arba’atun, menjelaskan bahwa AUTP kini menjadi instrumen vital untuk menjaga keberlangsungan usaha tani.
Sebab, ancaman gagal panen bisa datang kapan saja mulai dari serangan organisme pengganggu tanaman, bencana alam, hingga faktor teknis yang tak dapat dikendalikan petani.
“AUTP ini memberikan rasa aman. Ketika panen gagal, modal kerja petani tetap terlindungi, sehingga usaha taninya bisa terus berjalan,” tegasnya.
DKPP aktif turun ke lapangan dengan menggelar sosialisasi di berbagai kecamatan. Langkah ini bertujuan memastikan petani benar-benar memahami manfaat AUTP, terutama sebagai langkah antisipasi risiko kerugian di musim tanam.
Kegiatan sosialisasi terbaru dilaksanakan pada 26–27 November 2025, yang dipusatkan di Aula Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kanor dan Baureno. Puluhan kelompok tani hadir, terdiri dari 21 poktan dari Kanor dan 51 poktan dari Baureno.
Data DKPP menunjukkan tingginya minat petani mengikuti AUTP. Pada tahun 2025, tercatat 11.745 petani dari 9 kecamatan telah resmi terdaftar.
Berikut rinciannya, Baureno 5.044, Kanor 2.480, Kalitidu 745, Padangan 700, Dander 694, Purwosari 623, Malo 554, Kapas 476 dan Bojonegoro 429 petani.
Program AUTP tahun ini juga mendapat dukungan pendanaan, di mana Pemkab Bojonegoro menanggung 20 persen biaya, sementara 80 persen sisanya dibantu oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Dengan semakin gencarnya sosialisasi, Pemkab Bojonegoro berharap tidak ada lagi petani yang terjerat kerugian berat akibat gagal panen. AUTP diharapkan menjadi benteng ekonomi petani untuk menjaga produktivitas padi tetap stabil. (aj)

























