Beranda Infotaiment Pameran Seni Keramik di Kota Batu, Ajang Bertemunya Seniman Lintas Generasi

Pameran Seni Keramik di Kota Batu, Ajang Bertemunya Seniman Lintas Generasi

IMG 20251106 WA0059 copy 1280x853

KOTA BATU – Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-24 Kota Batu, Studio MataHati Ceramics mempersembahkan hadiah istimewa bagi dunia seni, yaitu pameran keramik lintas generasi bertajuk “Mata Ruang Lama Kini.”

Gelaran ini bukan sekadar pameran, melainkan perwujudan nyata dari semangat “Batu SAE” (Berkelanjutan, Agrokreatif, Terpadu, Unggul, Sinergi, Akomodatif, dan Ekologis) sebuah gerakan untuk menumbuhkan ekosistem seni keramik yang kian langka di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

Pameran yang dibuka pada Minggu sore, 9 November 2025, ini akan berlangsung hingga 23 November 2025 di Studio MataHati Ceramics, Perumahan Wastu Asri, Desa Junrejo, Kota Batu.

Menariknya, pengunjung bisa menikmati seluruh karya tanpa dipungut biaya alias gratis (Free HTM) setiap hari pukul 08.00–19.00 WIB.

Sebagai pelengkap, diselenggarakan pula “Art Talk” pada Sabtu, 15 November 2025 sesi edukatif yang membuka ruang diskusi antara seniman, mahasiswa, dan masyarakat.

Founder Studio MataHati Ceramics, Muchlis Arif, mengungkapkan bahwa lahirnya “Mata Ruang Lama Kini” dilandasi oleh keresahan terhadap minimnya pameran seni keramik di Jawa Timur.

“Kota Batu adalah kota agrokreatif subur bukan hanya untuk tanaman, tapi juga untuk ide. Dari ruang kecil di Junrejo ini, kami ingin menjaga api kreativitas Batu SAE agar terus menyala,” ujar Muchlis, Kamis (6/11/2025).

Konsistensi Studio MataHati dalam menggelar pameran patut diapresiasi. Tahun 2025 saja, ini adalah pameran keempat yang mereka adakan mencakup skala lokal, nasional, hingga internasional.

Langkah ini mempertegas komitmen mereka menjadikan Studio MataHati sebagai “mata ruang” yang menumbuhkan ekosistem seni keramik di Jawa Timur dan menjadi sumber inspirasi yang unggul dan ekologis.

Judul pameran ini menyimpan filosofi yang kuat, Mata Ruang berarti ruang sinergi dan akomodasi tempat seniman, mahasiswa, dan masyarakat bertemu untuk berdialog, berbagi ilmu, serta mengapresiasi karya.

Lama Kini merepresentasikan kesinambungan antara masa lalu dan masa kini dalam seni keramik. “Lama” diwakili oleh para alumni Seni Rupa UNESA yang telah berkarya hingga dua dekade lalu dari berbagai daerah seperti Pasuruan, Surabaya, hingga Raja Ampat Papua. “Kini” diwakili oleh generasi muda seniman dan mahasiswa dari Lumajang, Bekasi, Kota Batu, hingga Ubud Bali yang membawa napas baru dalam dunia seni keramik modern.

Muchlis berharap langkah Studio MataHati bisa menjadi inspirasi bagi komunitas dan studio lain di seluruh Indonesia.

“Semoga ruang-ruang kecil yang organik terus membuka mata dan hati, menumbuhkan medan seni keramik dari pinggiran hingga pusat menjadi mata air kreativitas yang unggul dan ekologis, sesuai spirit Batu SAE,” tutupnya.

Pameran “Mata Ruang Lama Kini” bukan sekadar acara seni. Ia adalah cermin perjalanan waktu, sinergi lintas generasi, dan dedikasi seniman Kota Batu yang terus menghidupkan nafas kreativitas di tanah agrokreatif nan sejuk ini. (Fur)