BOJONEGORO – Suasana Desa Pucangarum, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, pada Rabu (27/8/2025) sore benar-benar pecah. Ribuan warga dari berbagai penjuru rela berdesakan di sepanjang jalan desa demi menyaksikan kemeriahan Pucangarum Cultural Carnival, sebuah pawai budaya spektakuler dalam rangka peringatan HUT RI ke-80.
Pawai yang menutup ruas jalan sepanjang 2,5 kilometer itu seolah menjadi magnet hiburan. Sejak siang, masyarakat sudah memadati sisi kiri dan kanan jalan, meski acara baru dimulai pukul 15.00 WIB. Antusiasme warga membuat suasana berubah bak pesta rakyat besar-besaran.
Cultural Carnival kali ini diikuti 10 grup peserta yang terdiri dari para pemuda, gabungan RT/RW, hingga kelompok kreatif desa. Mereka menampilkan berbagai atraksi budaya Nusantara, mulai dari tarian tradisional, kostum kerajaan, hingga teatrikal bertema sejarah.
Menariknya, setiap grup tampil dengan iringan sound horeg berkapasitas besar yang dipasang di atas truk. Suara dentuman bass bercampur lantunan musik modern membuat suasana semakin meriah. Salah satunya adalah peserta nomor urut pertama yang menyajikan tarian ala kerajaan Pajajaran dengan latar belakang dentuman sound system yang memekakkan telinga namun tetap memikat penonton.
Meski demikian, setiap peserta hanya diberi waktu 10 menit tampil di depan panggung utama untuk dinilai juri sebelum melanjutkan perjalanan hingga garis finish.
Kepala Desa Pucangarum, Hariadi, menegaskan bahwa acara ini bukanlah pawai sound horeg semata, melainkan pawai budaya yang mengangkat tema keberagaman nusantara.
“Pucangarum Cultural Carnival adalah momentum untuk menunjukkan kekayaan budaya bangsa melalui kreativitas warga. Sound system hanya properti, bukan inti acara,” ujarnya.
Hariadi menjelaskan bahwa penggunaan sound horeg adalah inisiatif pribadi dari masing-masing kelompok peserta. Meski suaranya menggelegar, panitia telah menetapkan aturan tegas demi menjaga kenyamanan warga.
Setiap sound system hanya boleh menyalakan volume maksimal 85 dB selama 10 menit. Dimensi perangkat pun dibatasi dengan ukuran lebar 3 meter dan tinggi maksimal 2,5 meter.
Selain itu, seluruh operator dan peserta sudah menandatangani kesepakatan bersama yang menyatakan siap bertanggung jawab penuh apabila terjadi kerusakan fasilitas akibat penggunaan sound system.
“Alhamdulillah, semua warga dan peserta patuh pada aturan. Acara berjalan tertib, lancar, dan kondusif. Saya sangat berterima kasih kepada masyarakat yang ikut menjaga suasana aman selama karnaval berlangsung,” tambah Hariadi.
Tidak hanya sekadar hiburan, pawai budaya ini juga menjadi ajang mempererat persatuan dan semangat gotong royong warga desa. Ribuan penonton yang hadir tampak terhibur sekaligus bangga dengan kreativitas masyarakatnya.
Dengan konsep unik memadukan tradisi nusantara dan sound horeg modern, Pucangarum Cultural Carnival tahun ini sukses meninggalkan kesan mendalam bagi warga Bojonegoro dan sekitarnya. (aj)