BOJONEGORO – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bojonegoro resmi memasuki babak baru.
Dewan Kehormatan dan jajaran pengurus masa bakti 2026–2031 PMI Bojonegoro dilantik dalam prosesi khidmat di Pendopo Malowopati, Kamis (2/4/2026).
Pelantikan ini dihadiri Ketua PMI Jawa Timur Imam Utomo, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, Wakil Bupati Nurul Azizah, unsur Forkopimda, Kapolres, perwakilan PMI Tuban dan Lamongan, hingga relawan dan jajaran pemerintahan se-Bojonegoro.
Acara diawali dengan pembacaan prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, dilanjutkan pembacaan surat keputusan Ketua PMI Jawa Timur, sebelum prosesi pelantikan resmi dilakukan.
Dalam sambutannya, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menegaskan bahwa PMI harus menjadi lembaga kemanusiaan yang profesional, akuntabel, dan dipercaya masyarakat.
“PMI harus mampu memberikan harapan bagi masyarakat. Profesionalisme dan tanggung jawab menjadi kunci utama,” tegasnya.
Ia juga memberi perhatian khusus pada kualitas darah yang dikelola PMI.
Menurutnya, seluruh proses harus memenuhi standar ketat, mulai dari pengambilan hingga penyimpanan.
“Darah yang diambil harus berkualitas, disimpan sesuai standar, dan seluruh prosesnya harus benar,” tambahnya.
Tak hanya itu, Bupati juga mendorong masifnya edukasi donor darah agar kesadaran masyarakat Bojonegoro terus meningkat.
Ketua PMI Jawa Timur, Imam Utomo, mengapresiasi pelantikan tersebut sekaligus mengingatkan pentingnya komitmen dalam menjalankan pakta integritas.
“Yang sudah diucapkan harus benar-benar dilaksanakan,” ujarnya.
Dia juga mengungkapkan bahwa Bojonegoro menjadi salah satu daerah prioritas untuk meraih sertifikasi CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) sesuai arahan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Mudah-mudahan tahun ini bisa tercapai. Saya yakin Bojonegoro mampu,” katanya optimistis.
Selain sertifikasi, PMI juga diminta siap menghadapi verifikasi Unit Donor Darah (UDD) serta memperkuat kesiapsiagaan posko bencana.
Ketua PMI Kabupaten Bojonegoro, Ninik Susmiati, menegaskan bahwa pelantikan ini bukan hanya formalitas, melainkan titik awal penguatan pelayanan kemanusiaan.
“Ini adalah komitmen untuk memberikan pelayanan yang lebih cepat, tepat, dan berkualitas,” ujarnya.
Ke depan, PMI Bojonegoro akan fokus pada penguatan gerakan donor darah, peningkatan ketahanan masyarakat, optimalisasi layanan Unit Donor Darah (UDD).
Ninik juga menargetkan UDD PMI Bojonegoro segera meraih sertifikasi CPOB dari BPOM, sebagai jaminan kualitas dan keamanan darah bagi masyarakat.
“Kita harus bangga, karena Bojonegoro termasuk yang diprioritaskan. Ini peluang besar untuk meningkatkan standar layanan,” pungkasnya.
Dengan kepengurusan baru dan target yang jelas, PMI Bojonegoro diharapkan semakin solid dalam menjalankan misi kemanusiaan serta menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan berbasis relawan. (aj)

























