LAMONGAN – Dalam suasana penuh keberkahan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Ustadz Sumarno yang akrab disapa Ustadz Marno, berasal dari Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, menyampaikan pesan keislaman yang menyejukkan serta mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat persatuan dan mempererat tali silaturahmi Minggu !22/03/2026).
Mengawali pesannya, ia menyampaikan doa yang sarat makna:
“تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنكُمْ، صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ، وَجَعَلَنَا مِنَ الْعَائِدِينَ
وَالْفَائِزِينَ”
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, wa ja‘alana minal ‘aidin wal faizin.
Yang berarti, semoga Allah menerima amal ibadah kita, menerima puasa kita semua, serta menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang kembali suci dan meraih kemenangan.
Dia kemudian melanjutkan dengan ucapan:
“Minal ‘aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.”
Menurut Ustadz Marno, ucapan tersebut bukan sekedar tradisi, melainkan doa dan refleksi spiritual untuk kembali kepada fitrah manusia yang suci, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا”
(Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu) (QS. Ar-Rum: 30)
Ustadz Sumarno diketahui merupakan pengurus aktif sekaligus kini memegang peran penting di Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) yang berlokasi di Desa Tenggulun.
Sebelumnya, yayasan tersebut dipimpin oleh Ustadz Dr. Ali Fauzi Manzi, yang dikenal luas dalam upaya deradikalisasi dan pembinaan masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, kepemimpinan yayasan kini dilanjutkan oleh Ustadz Sumarno (Ustadz Marno), yang meneruskan perjuangan dalam menanamkan nilai-nilai Islam yang damai, moderat, serta menjunjung tinggi persatuan dan kemanusiaan.
Yayasan Lingkar Perdamaian sendiri dikenal aktif dalam bidang deradikalisasi, pembinaan, serta pemberdayaan masyarakat, dengan tujuan membangun kehidupan yang harmonis dan jauh dari paham ekstremisme.
Dalam penyampaiannya, dirinya menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antar sesama manusia sebagai bagian dari ajaran Islam yang luhur. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:
“وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ”
(Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi). (QS. An-Nisa: 1)
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa menjaga martabat, kehormatan, dan tanggung jawab adalah kewajiban setiap insan.
Kemuliaan manusia tidak diukur dari jabatan atau kekayaan, melainkan dari ketakwaannya kepada Allah SWT:
“إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ”
(Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa). (QS. Al-Hujurat: 13)
Dalam kiprahnya memimpin Yayasan Lingkar Perdamaian, Ustadz Marno aktif mengajak masyarakat untuk menjauhi sikap ekstremisme serta menumbuhkan nilai-nilai perdamaian dan persatuan.
Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam:
“وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ”
(Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam). (QS. Al-Anbiya: 107)
Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan perilaku, karena setiap ucapan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT:
“مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ”
(Tiada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu mencatat). (QS. Qaf: 18)
Di penghujung pesannya, dirinya berharap agar Idul Fitri menjadi titik awal untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, mempererat persaudaraan, serta membangun kehidupan masyarakat yang rukun, damai, dan penuh keberkahan:
“إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ”
(Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara). (QS. Al-Hujurat: 10)
Ia juga berpesan agar semangat Ramadan tidak berhenti setelah bulan suci berlalu, melainkan terus dijaga sepanjang hayat dengan meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta amal kebaikan:
“وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ”
(Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS. Al-Hijr: 99). (as)
























