BOJONEGORO – Perbedaan penentuan Hari Raya Idul Fitri tidak menjadi penghalang bagi warga Desa Sumberagung, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, untuk tetap menjaga kerukunan.
Sebagian warga Muhammadiyah setempat melaksanakan Sholat Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026, di Masjid Al Mutaqqin, Dusun Ngasem.
Sekitar 400 jamaah memadati masjid sejak pagi hari. Suasana berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan.
Sholat Id dipimpin oleh Ustad Shadam Husain sebagai imam, sementara khutbah disampaikan oleh H. Ikshan Budiono, SH., M.Pd.
Dalam khutbahnya, H. Ikshan Budiono mengajak seluruh jamaah untuk terus menjunjung tinggi sikap saling menghormati, terutama dalam menyikapi perbedaan penentuan hari raya.
Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan bagian dari keyakinan yang harus disikapi dengan bijak.
“Setelah Idul Fitri, mari kita kembali ke fitrah, mempererat persaudaraan dan tidak memperuncing perbedaan,” pesannya di hadapan jamaah.
Fenomena perbedaan awal puasa maupun lebaran memang kerap terjadi di Desa Sumberagung.
Meski demikian, masyarakat setempat dikenal mampu menjaga harmoni dan tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber konflik.
Salah satu jamaah mengungkapkan bahwa warga sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.
“Di sini memang sering tidak bareng, tapi alhamdulillah semua saling menghargai. Tidak pernah jadi masalah,” ujarnya.
Untuk memastikan kegiatan berjalan lancar, aparat keamanan dari Polsek dan Koramil turut hadir di lokasi.
Mereka dibantu oleh anggota Linmas dalam mengatur ketertiban dan keamanan selama pelaksanaan Salat Id.
Momentum ini kembali menjadi bukti bahwa toleransi dan kebersamaan di tengah perbedaan masih terjaga kuat di tengah masyarakat pedesaan. (aj)

























