BOJONEGORO – Kemarahan warga Desa Kalirejo, Kecamatan Bojonegoro, kian memuncak setelah portal pembatas kendaraan di sisi selatan Jembatan Glendeng mendadak roboh tanpa penjelasan resmi.
Peristiwa di jalur strategis Jalan Raya Soko-Bojonegoro ini memantik kecurigaan serius dan dianggap bukan hanya kecelakaan biasa.
Alih-alih menerima begitu saja narasi bahwa portal tersebut ditabrak truk, warga Kalirejo, Bojonegoro, justru menilai ada indikasi kuat tindakan sengaja oleh oknum yang bertindak di luar aturan.
Dugaan ini semakin menguat karena tidak adanya kejelasan dari pihak berwenang hingga saat ini.
Seorang warga Kalirejo yang berinisial A menyampaikan kekecewaan sekaligus kekhawatiran.
Ia menegaskan, jika pembongkaran tersebut merupakan kebijakan resmi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, masyarakat tentu bisa menerima.
Namun jika dilakukan secara sepihak, hal itu dinilai sebagai tindakan sewenang-wenang yang merugikan warga Bojonegoro.
“Kalau ini kebijakan resmi, kami bisa paham. Tapi kalau dibongkar paksa oleh oknum, ini jelas merugikan. Portal itu penting untuk membatasi kendaraan besar agar tidak melintas sembarangan,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Keresahan juga datang dari Yasin, warga Desa Mentoro, Kabupaten Tuban, yang hampir setiap hari melintasi jalur tersebut.
Ia menilai hilangnya portal bisa membuka celah bagi kendaraan bertonase besar untuk bebas melintas, yang berpotensi mempercepat kerusakan jalan.
“Kalau portal tidak ada, kendaraan besar pasti lewat seenaknya. Jalan cepat rusak, yang dirugikan masyarakat. Jangan sampai aturan kalah oleh kepentingan segelintir pihak,” tegasnya.
Tak hanya berdampak pada infrastruktur, warga juga menyoroti potensi kerugian ekonomi.
Usaha kecil di sekitar jalur tersebut sangat bergantung pada kondisi lalu lintas yang tertib.
Jika kendaraan besar bebas melintas, risiko kecelakaan meningkat dan aktivitas ekonomi warga bisa terganggu.
Sejumlah warga bahkan menyuarakan kekecewaan dengan nada keras, menilai pemerintah terkesan lamban merespon persoalan ini.
“Kami ini masyarakat kecil, jangan terus jadi korban. Pemerintah harus hadir, bukan diam. Kalau dibiarkan, ini sama saja melegalkan pelanggaran,” keluh I salah satu warga lainnya.
Kini, tekanan publik mengarah langsung ke Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk segera memberikan kejelasan.
Warga menuntut transparansi, apakah portal tersebut dibongkar secara resmi atau justru dirusak oleh oknum tak bertanggung jawab.
Selain itu, masyarakat Bojonegoro mendesak langkah konkret berupa pemasangan kembali portal sebagai bentuk perlindungan terhadap kepentingan umum.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait.
Namun satu hal yang pasti, keresahan warga Kalirejo, Bojonegoro terus membesar.
Mereka menolak keras segala bentuk tindakan yang merugikan masyarakat dan meminta pemerintah segera bertindak.
Sebelumnya, sebuah portal pembatas kendaraan yang berada di sisi selatan Jembatan Glendeng, turut Desa Kalirejo, Kecamatan Bojonegoro, dilaporkan roboh setelah dihantam truk box pada Rabu malam (18/3/2026) sekira pukul 22.30 Wib.
Peristiwa tersebut terjadi saat truk box melaju dari arah utara menuju selatan.
Diduga kendaraan dengan dimensi cukup besar itu tidak dapat melewati batas ketinggian portal, sehingga benturan keras pun tak terhindarkan.
Akibat insiden tersebut, salah satu sisi portal mengalami patah dan ambruk ke badan jalan. (aj)

























