Beranda Peristiwa Banjir Berbulan-bulan, Begini Cara Warga Lamongan Bertahan Hidup Jelang Idul Fitri 2026

Banjir Berbulan-bulan, Begini Cara Warga Lamongan Bertahan Hidup Jelang Idul Fitri 2026

IMG 20260311 WA0006

LAMONGAN – Rabu (11/3/2026), suasana Ramadan di kawasan utara Lamongan tak seperti biasanya.

Di saat warga lain sibuk berburu takjil di jalanan kering, ribuan warga Lamongan di sini harus bergelut dengan genangan air yang tak kunjung pergi.

Banjir yang dipicu luapan Bengawan Jero telah mengubah wajah desa menjadi hamparan “lautan” selama berbulan-bulan.

Ibadah puasa tahun ini dijalani dengan penuh keprihatinan. Jalan desa, halaman rumah, hingga fasilitas umum terendam.

Namun, di balik ujian alam ini, terpancar keteguhan luar biasa dari masyarakat Lamongan yang tetap memilih bertahan di rumah masing-masing.

Beraktivitas di tengah banjir bukan perkara mudah. Warga terpaksa menerjang air setiap kali ingin keluar rumah.

Untuk mencegah kecelakaan, masyarakat secara swadaya memasang jaring pengaman di sepanjang jalan yang tenggelam.

Tujuannya agar pengendara tidak tergelincir masuk ke saluran air yang tertutup genangan.

“Kami terbiasa berjalan pelan, kendaraan pun harus ekstra hati-hati. Licin dan tidak terlihat mana jalan mana parit,” ujar salah satu warga yang tetap semangat berangkat ke masjid untuk salat Tarawih.

Banjir berkepanjangan ini bukan sekadar masalah genangan air, tapi juga ancaman nyata bagi perut warga.

Sektor pertanian dan pertambakan yang menjadi urat nadi ekonomi lumpuh total.

Sawah-sawah yang seharusnya siap panen justru membusuk di bawah air.

Banyak petani harus menelan pil pahit karena gagal panen massal.

Menurunnya pendapatan di tengah kebutuhan Lebaran yang meningkat menjadi beban ganda yang harus dipikul oleh ribuan kepala keluarga di beberapa kecamatan terdampak.

Meski dihantam kesulitan ekonomi dan keterbatasan ruang gerak, solidaritas antarwarga justru semakin menguat.

Mereka saling menguatkan di tengah kepungan air, menanti datangnya hari kemenangan dengan penuh kesabaran.

Kini, menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, doa yang paling sering dipanjatkan warga bukan tentang baju baru atau hidangan mewah.

Harapan mereka sangat sederhana namun mendalam: Ingin merayakan Lebaran di atas lantai rumah yang kering, tanpa suara kecipak air di dalam ruangan.

Keteguhan masyarakat Lamongan menghadapi ujian ini menjadi cermin nyata bahwa semangat Ramadan tidak luntur, meski harus dijalani di tengah kepungan banjir yang kian menjemukan. (as)