SIDOARJO – Suasana ngabuburit di depan Sentral Kuliner Gajah Mada, Sidoarjo, Rabu (04/03/2026), tampak berbeda dari biasanya.
Ratusan anggota Persatuan Perempuan Sidoarjo yang tergabung dalam grup media sosial Sidoarjo Damai Bersatu turun langsung ke jalan membagikan ribuan paket takjil kepada masyarakat.
Namun kegiatan ini bukan sekedar aksi sosial Ramadan. Di balik pembagian takjil, terselip pesan kuat soal perdamaian dan harapan agar dua pimpinan daerah di Sidoarjo kembali kompak.
Komunitas yang menaungi berbagai elemen masyarakat mulai dari pegiat seni, pelaku UMKM, aktivis sosial hingga tokoh komunitas ini dikomandoi oleh artis dangdut nasional asal Sidoarjo, Titin Kharisma.
Di sela kegiatan, Titin menyampaikan pesan moral kepada seluruh anggota agar momentum Ramadan dijadikan ajang memperbanyak amal dan menebar kebaikan.
“Semoga giat hari ini para anggota yang hadir mendapatkan limpahan rahmat, dimudahkan rezekinya, dan selalu diberi kesehatan. Aamiin,” ucap Titin di hadapan peserta.
Tak hanya berbagi, acara juga diisi hiburan teatrikal drama bernuansa humor.
Parodi tersebut menggambarkan situasi hubungan yang dinilai kurang harmonis antara dua pimpinan daerah Sidoarjo.
Menurut Titin, drama tersebut bukan untuk menyerang personal, melainkan bentuk keprihatinan atas dinamika politik lokal.
“Sambil menunggu berbuka, teman-teman dihibur adegan humor yang menggambarkan situasi hubungan disharmonis dua pimpinan di Sidoarjo dengan memplesetkan nama kota dan pimpinan,” jelasnya.
Sebagai informasi, Titin dikenal sebagai satu-satunya artis dangdut nasional asal Sidoarjo yang pernah tampil di Jerman atas undangan stasiun televisi setempat.
Dalam pernyataannya yang cukup tegas, Titin mengaku pernah menjadi relawan pemenangan Subandi dan Mimik Idayana.
Ia berharap duet kepemimpinan tersebut mampu membawa Sidoarjo lebih maju.
Namun hingga kini, dia mengaku kecewa karena menilai ego masing-masing pimpinan masih tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda rekonsiliasi.
“Kalau ini terus dibiarkan, lebih baik dua pimpinan itu diganti saja semua. Adakan pemilihan bupati dan wakil bupati baru sesuai konstitusi,” tegasnya.
Bagi komunitas Persatuan Perempuan Sidoarjo, bulan suci Ramadan seharusnya menjadi momentum introspeksi dan rekonsiliasi.
Mereka berharap kedua pimpinan daerah dapat kembali bersatu demi kepentingan masyarakat luas.
Usai pembagian takjil, acara dilanjutkan dengan teatrikal drama yang disaksikan berbagai elemen komunitas.
Turut hadir pengurus APLKI, Ketua Ruang Publik Sidoarjo, pengurus asosiasi pengacara, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.
Aksi sosial yang dikemas dengan pesan politik ini menjadi warna tersendiri dalam Ramadan 2026 di Sidoarjo.
Di tengah semangat berbagi, suara publik soal kepemimpinan daerah pun menguat berharap harmoni segera kembali terwujud demi masa depan Sidoarjo yang lebih baik. (Red)

























