BOJONEGORO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah wilayah Bojonegoro kembali menjadi sorotan.
Kali ini, keluhan datang dari sejumlah orang tua murid di wilayah Desa Turigede, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro.
Mereka menilai menu yang dibagikan kepada siswa jauh dari ekspektasi dan dianggap tidak mencerminkan besarnya anggaran program tersebut.
Sejak awal Ramadhan, protes mulai bermunculan. Beberapa wali murid mengaku kecewa karena menu yang diterima anak-anak dinilai terlalu sederhana dan kurang memenuhi unsur gizi seimbang.
Salah satu orang tua murid AN yang namanya minta diinisialkan mengungkapkan bahwa pada Rabu (25/2/2024), anaknya hanya menerima empat butir telur puyuh, lima buah kurma, serta satu makanan ringan yang diperkirakan bernilai sekitar seribuan rupiah.
“Kalau dibandingkan dengan anggaran yang katanya besar, ini terasa tidak sepadan. Anak saya cuma dapat telur puyuh empat, kurma lima, dan snack kecil,” keluhnya.
Pada hari sebelumnya, menurut pengakuan ZR orang tua murid lainnya, menu yang dibagikan bahkan lebih sederhana, yakni dua potong roti, satu jeruk kecil, serta abon. Menu tersebut disebut diberikan untuk dua hari.
Keluhan tidak hanya muncul selama Ramadhan. Beberapa orang tua menyebut sebelum bulan puasa pun kualitas menu dinilai kurang konsisten dan tidak mencerminkan standar makanan bergizi sebagaimana yang diharapkan masyarakat.
Sejumlah wali murid berharap pemerintah tidak hanya menerima laporan dari pihak pengelola dapur MBG atau petugas pelaksana di lapangan.
Mereka meminta adanya pengecekan langsung ke sekolah dan dialog terbuka dengan penerima manfaat.
“Harusnya yang ditanya itu yang menerima, bukan hanya yang mengelola. Pemerintah perlu turun langsung supaya tahu kondisi sebenarnya,” ujar ZR.
Selain soal kualitas menu, sebagian masyarakat juga menyuarakan gagasan agar bantuan tersebut dipertimbangkan dalam bentuk lain, misalnya bantuan tunai atau mekanisme berbeda yang memberi ruang kepada orang tua untuk mengatur sendiri asupan gizi anak.
Mereka beralasan, orang tua lebih memahami kebutuhan nutrisi anak masing-masing, terutama di bulan Ramadhan di mana pola makan ikut berubah.
Di tengah protes yang berkembang di berbagai daerah melalui media sosial, isu standar gizi dan keamanan pangan juga ikut disorot.
Beberapa kasus dugaan gangguan kesehatan akibat konsumsi makanan program serupa di daerah lain turut menjadi perhatian publik.
Para orang tua di Bojonegoro berharap evaluasi menyeluruh segera dilakukan agar tujuan utama program, yakni meningkatkan kualitas gizi siswa, benar-benar tercapai.
“Programnya bagus, tapi pelaksanaannya harus benar-benar diawasi. Jangan sampai niat baik pemerintah justru mengecewakan masyarakat,” tegas AN seorang wali murid.
Hingga kini, masyarakat menanti respon dan langkah konkret dari pihak terkait guna memastikan program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai harapan serta transparan dalam pengelolaan anggarannya. (aj)

























