Beranda TNI/POLRI Terungkap, Bangunan Polsek Padangan Dulunya Pusat Kendali Emas Hijau Bojonegoro

Terungkap, Bangunan Polsek Padangan Dulunya Pusat Kendali Emas Hijau Bojonegoro

IMG 20260217 WA0003

BOJONEGORO – Kabupaten Bojonegoro tak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang masih berdiri kokoh hingga hari ini.

Di Kecamatan Padangan, deretan bangunan kuno di sekitar Terminal Padangan menjadi saksi bisu geliat ekonomi Bojonegoro masa lampau.

Salah satunya adalah bangunan tua yang kini difungsikan sebagai Kantor Polsek Padangan.

Sekilas, bangunan tersebut tampak seperti kantor polisi pada umumnya.

Namun siapa sangka, arsitektur kolonial dengan dinding tebal, pilar kokoh, jendela-jendela besar, serta langit-langit tinggi khas era Belanda mengungkap kisah panjang di baliknya.

Lantai terazzo bernuansa cokelat dan hijau zamrud serta detail ambang pintu klasik semakin menguatkan aura historis yang masih terjaga.

Letaknya yang berdampingan dengan Padangan Heritage, Local History and Museum menjadikan kawasan ini sebagai simpul penting sejarah lokal.

Dahulu, bangunan ini bukan sekedar gedung administratif. Ia pernah menjadi pusat kendali industri perkebunan tembakau komoditas yang dijuluki “emas hijau” dan menjadi andalan Bojonegoro pada masanya.

Selain itu, bangunan ini juga sempat difungsikan sebagai kantor tembakau hingga pabrik kapur, mempertegas perannya dalam rantai distribusi niaga di tepian Bengawan Solo.

Pada era kejayaan perdagangan tembakau, Padangan dikenal sebagai salah satu titik strategis jalur distribusi.

Posisi geografisnya yang dekat Bengawan Solo membuat kawasan ini menjadi simpul ekonomi penting.

Dari sinilah komoditas tembakau didistribusikan ke berbagai wilayah.

Awal Februari 2026, tim media ini berkesempatan menelusuri ruang demi ruang bangunan bersejarah tersebut.

Nuansa kolonial masih sangat terasa. Setiap sudut bangunan seolah membawa imajinasi kembali ke masa ketika aktivitas perdagangan berlangsung dinamis dan Padangan menjadi denyut nadi ekonomi agraris.

Tak hanya menyimpan nilai arsitektural dan ekonomi, kompleks bangunan ini juga menyimpan cerita rakyat yang masih dikenang warga.

Di area tersebut terdapat tujuh sumur tua yang memiliki nilai filosofis dan spiritual.

Konon, pada dekade 1980-an, air dari tujuh sumur ini kerap digunakan untuk keperluan ruwatan, tradisi Jawa yang dipercaya membawa keselamatan dan keberkahan. Airnya diyakini memiliki nilai kesucian tersendiri.

“Dulu tahun 80-an, air dari tujuh sumur di sini sering dicari orang untuk ruwatan. Memang sangat ikonik pada masanya,” ungkap Fahrudin, penjaga Padangan Heritage, Local History and Museum.

Fahrudin bukan sosok sembarangan. Ia merupakan cicit H. Rasyid, salah satu pengusaha tembakau pada era pra kemerdekaan sekaligus pemilik bangunan Padangan Heritage.

Sebagai generasi keempat, ia menjadi penghubung cerita masa lalu dengan generasi masa kini.

Seiring perkembangan zaman, fungsi sumur-sumur tersebut mulai bergeser.

Kebutuhan ruwatan kini lebih banyak memanfaatkan sumber sendang di sekitar wilayah.

Meski begitu, keberadaan tujuh sumur tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah yang tak ternilai.

Kini, Polsek Padangan bukan hanya berperan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), tetapi juga berdiri sebagai monumen sejarah yang hidup.

Bangunan ini menjadi pengingat bahwa di tanah Padangan, kejayaan agraris dan kekayaan budaya pernah berpadu dalam harmoni.

Di tengah modernisasi, bangunan kolonial ini tetap kokoh berdiri, menyampaikan pesan bahwa sejarah bukan sekedar cerita masa lalu, melainkan identitas yang harus dijaga.

Bagi generasi muda Bojonegoro, Polsek Padangan adalah bukti nyata bahwa warisan sejarah bisa tetap hidup dan relevan di tengah dinamika zaman. (aj)