Beranda Infotaiment Adi Sutarwijono Tutup Usia, Andre Yulius Sebut Warisannya Akan Terus Hidup

Adi Sutarwijono Tutup Usia, Andre Yulius Sebut Warisannya Akan Terus Hidup

IMG 20260212 WA0014

SURABAYA – Kabar duka menyelimuti Kota Pahlawan. Ketua DPRD Kota Surabaya periode 2019–2024 sekaligus 2024–2029, Dominikus Adi Sutarwijono, S.I.P, meninggal dunia pada Selasa, 10 Februari 2026.

Kepergian tokoh yang dikenal sederhana, dekat dengan rakyat, dan penuh dedikasi itu meninggalkan duka mendalam bagi banyak kalangan.

Salah satu ungkapan kehilangan datang dari Dr.dr Andre Yulius, yang mengenang almarhum sebagai pemimpin yang bekerja bukan sekedar menjalankan jabatan, tetapi mengabdikan hidupnya untuk kepentingan masyarakat.

“Kepergian beliau adalah kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga besar PDI Perjuangan, tetapi juga bagi seluruh warga Surabaya. Almarhum memimpin dengan hati, penuh integritas, dan selalu mengutamakan rakyat,” tutur Dr.dr Andre Yulius kepada awak media.

Menurutnya, selama menjabat sebagai Ketua DPRD Surabaya, Adi Sutarwijono dikenal sebagai figur yang konsisten memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Ia tak segan turun langsung ke lapangan, menyapa warga, dan mendengar persoalan dari sumbernya.

Dr.dr Andre Yulius menilai gaya kepemimpinan almarhum sarat dengan nilai transparansi, dialog terbuka, dan kebersamaan.

Berbagai kebijakan strategis yang lahir di bawah kepemimpinannya dinilai memberi dampak nyata bagi pembangunan kota serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Beliau selalu menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya. Kerendahan hati dan keterbukaannya membuat beliau dicintai lintas kalangan. Semangat pengabdiannya akan terus menjadi inspirasi, terutama bagi generasi muda,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr.dr Andre Yulius juga menyampaikan doa agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Dia berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan menghadapi masa duka.

Wafatnya Dominikus Adi Sutarwijono meninggalkan kekosongan di panggung politik Surabaya.

Banyak pihak mengenang almarhum sebagai jembatan aspirasi rakyat, sosok yang mampu merangkul berbagai elemen masyarakat tanpa sekat.

Ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai penjuru. Karangan bunga dan doa menjadi simbol penghormatan terakhir atas dedikasi panjang seorang pemimpin yang sepanjang hidupnya diabdikan untuk pelayanan publik.

Kepergian Adi Sutarwijono menjadi pengingat bahwa pengabdian tulus kepada masyarakat adalah warisan paling berharga seorang pemimpin.

Meski telah berpulang, nilai perjuangan, ketulusan, dan semangat melayani yang ia tanamkan diyakini akan terus hidup dalam perjalanan Surabaya ke depan.

Bagi banyak warga, almarhum bukan sekadar pejabat publik, melainkan sahabat rakyat yang selalu membawa harapan. Kini, Surabaya mengenangnya dengan doa dan rasa terima kasih atas dedikasi yang tak ternilai. (sh)