Beranda Infotaiment Dari Limbah Jadi Juara, Inovasi Bekatul Mahasiswi Bojonegoro

Dari Limbah Jadi Juara, Inovasi Bekatul Mahasiswi Bojonegoro

IMG 20260131 WA0018

BOJONEGORO – Inovasi pemanfaatan sisa pangan kembali lahir dari tangan generasi muda Kabupaten Bojonegoro.

Kali ini datang dari Sherly Rahayu Retnoningtyas, mahasiswi asal Desa Semenpinggir, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, yang sukses mengolah bekatul menjadi sajian modern bernama Bekatul Crepe Roll Cake.

Kreasi tersebut berhasil mengantarkan Sherly meraih Juara 2 Lomba Inovasi Olahan Sisa Pangan yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro.

Inovasi ini dinilai tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki nilai gizi dan potensi ekonomi yang menjanjikan.

Sherly yang saat ini menempuh pendidikan Program Studi S1 Gizi di Stikes Muhammadiyah Bojonegoro, dikenal aktif dalam berbagai kegiatan akademik, organisasi, hingga kompetisi inovasi pangan.

Di tengah kesibukan kuliah dan pekerjaan sampingan, ia konsisten mengembangkan ide-ide kreatif berbasis pangan lokal dan pengurangan limbah pangan.

Ide Bekatul Crepe Roll Cake berangkat dari kepeduliannya terhadap bekatul, hasil samping penggilingan padi yang selama ini identik sebagai pakan ternak.

Padahal, berdasarkan kajian gizi, bekatul memiliki kandungan protein, serat pangan, dan antioksidan yang cukup tinggi serta aman dikonsumsi manusia jika diolah dengan tepat.

Untuk menjamin keamanan pangan, bekatul terlebih dahulu melalui proses sterilisasi dengan pengukusan pada suhu 100 derajat Celsius selama 30 menit.

Setelah itu, bekatul disangrai pada suhu 70–90 derajat Celsius guna menurunkan kadar air sebelum dihaluskan menjadi tepung.

Tepung bekatul kemudian diolah menjadi adonan crepe dengan campuran susu, telur, dan mentega.

Hasilnya, crepe yang tipis dan lentur memiliki cita rasa gurih alami.

Crepe tersebut lalu digulung dengan whip cream dan potongan stroberi segar, menciptakan perpaduan rasa manis, gurih, dan segar dengan tampilan kekinian.

Menurut Sherly, tantangan terbesar dalam inovasi ini adalah mengubah stigma masyarakat yang masih memandang bekatul sebagai bahan pangan kelas rendah.

Selain itu, proses sterilisasi dan teknik penyajian agar kualitas produk tetap terjaga juga memerlukan ketelitian khusus.

Meski demikian, ia optimistis Bekatul Crepe Roll Cake dapat menjadi contoh bahwa sisa pangan lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bergizi sekaligus bernilai ekonomi.

Ke depan, Sherly berencana menambah variasi rasa, memperbaiki tampilan produk, serta menjajaki produksi skala kecil sebagai camilan sehat berbasis pangan lokal.

Prestasi ini sekaligus mencerminkan komitmen Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui DKPP dalam mendorong inovasi pangan berkelanjutan serta peran aktif generasi muda dalam mengangkat potensi lokal daerah. (aj)