Beranda Daerah Stunting Jadi Fokus, Pemkab Gresik Pamer Inovasi Digital dan Kolaborasi CSR

Stunting Jadi Fokus, Pemkab Gresik Pamer Inovasi Digital dan Kolaborasi CSR

IMG 20260130 WA0011

GRESIK – Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Gresik menarik perhatian daerah lain.

Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menerima kunjungan kerja Wakil Bupati Tabalong, Kalimantan Timur, Habib Muhammad Taufan Alkaf beserta jajaran di Ruang Graita Eka Praja, Kantor Bupati Gresik, Kamis (29/1/2026).

Kunjungan ini menjadi forum berbagi pengalaman dan praktik terbaik pembangunan daerah, khususnya terkait strategi penanganan dan pencegahan stunting berbasis data dan kolaborasi lintas sektor.

Dalam kesempatan tersebut, Wabup Alif memaparkan inovasi digital milik Pemkab Gresik bernama GUS (Gresik Urus Stunting).

Aplikasi ini dapat diakses secara daring dan memuat data stunting hingga level desa, sehingga memudahkan pemerintah dalam melakukan pemetaan dan intervensi yang tepat sasaran.

“Melalui aplikasi GUS, data stunting sudah terpetakan sampai tingkat desa. Kami jadi tahu wilayah mana yang angkanya masih tinggi. Tanpa data yang akurat, intervensi tidak akan efektif,” ujar Wabup Alif.

Ia menegaskan, data menjadi fondasi utama dalam pengambilan kebijakan.

Dengan sistem yang terintegrasi, Pemkab Gresik dapat langsung menindaklanjuti temuan data dengan intervensi terarah di tingkat kecamatan maupun desa.

Selain berbasis data, Gresik juga menguatkan langkah pencegahan melalui program Detak Kris (Deteksi, Tanggulangi, Kurangi Keluarga Risiko Stunting).

Program ini dijalankan bersama Dinas KBPPPA dan difokuskan pada calon pengantin serta ibu hamil, sebagai upaya mencegah stunting sejak fase awal kehidupan.

“Stunting itu tidak hanya muncul saat anak lahir. Ada fase pra-stunting. Di situlah peran KBPPPA, mulai dari pendataan calon pengantin hingga pendampingan ibu hamil agar bisa diintervensi lebih dini,” jelasnya.

Untuk mendukung program tersebut, Pemkab Gresik mengerahkan 1.030 kader pendamping keluarga yang tersebar di 356 desa dan kelurahan.

Para kader terdiri dari tenaga kesehatan, kader PKK, serta kader KB yang bertugas melakukan pendampingan langsung kepada keluarga berisiko stunting.

“Stunting bukan semata-mata soal anak kurang makan, tapi juga berkaitan dengan kondisi ibu saat hamil. Kader-kader ini yang turun langsung mendampingi, mengedukasi, dan memastikan asupan gizi anak terpenuhi,” ungkap Wabup Alif.

Tak hanya mengandalkan anggaran pemerintah, Pemkab Gresik juga melibatkan dunia usaha melalui program orang tua asuh bagi anak stunting.

Perusahaan-perusahaan di sekitar desa turut berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Anak-anak stunting kami dampingi dengan orang tua asuh. Dunia usaha ikut terlibat, ini bentuk kolaborasi nyata dalam menekan stunting,” katanya.

Menurut Wabup Alif, keberhasilan penurunan stunting di Gresik merupakan hasil sinergi berbagai sumber pendanaan, mulai dari APBD, APBN, APBDes, hingga CSR perusahaan, sehingga menjadi gerakan bersama lintas sektor.

Sementara itu, Wakil Bupati Tabalong Habib Muhammad Taufan Alkaf menyampaikan apresiasi atas berbagai inovasi yang dijalankan Pemkab Gresik.

Dia menilai pemanfaatan data digital dan penguatan kolaborasi menjadi kunci penting dalam percepatan penurunan stunting di daerah. (rif)