Beranda Peristiwa Pasca Banjir Aceh Timur, Warga Andalkan Alat Berat Demi Selamatkan Rumah

Pasca Banjir Aceh Timur, Warga Andalkan Alat Berat Demi Selamatkan Rumah

IMG 20260104 WA0007

ACEH TIMUR – Lebih dari satu bulan berlalu sejak banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November 2025.

Namun bagi banyak warga, terutama di Kabupaten Aceh Timur, perjuangan belum benar-benar usai.

Lumpur tebal yang menimbun rumah dan jalan kampung masih menjadi masalah utama yang harus dihadapi setiap hari.

Banjir bandang yang datang membawa material lumpur dalam jumlah besar, menyisakan endapan setinggi selutut hingga sepinggang orang dewasa.

Bahkan di beberapa rumah, lumpur dilaporkan sempat mencapai bagian atap, memaksa penghuninya meninggalkan tempat tinggal mereka.

Bagi warga yang memilih bertahan dan membersihkan rumah secara mandiri, beban yang dihadapi bukan hanya tenaga, tetapi juga biaya yang tidak sedikit.

Seorang warga Aceh Timur menceritakan pengalaman pahitnya saat membersihkan lumpur di rumahnya dengan menyewa alat berat jenis beko.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @bg_dosen pada Sabtu, 3 Januari 2025, warga tersebut mengungkapkan biaya besar yang harus dikeluarkan hanya untuk mengeruk lumpur.

“Sewa beko satu jam Rp600 ribu. Kami pakai selama dua jam, jadi habis Rp1,2 juta cuma buat bersihin lumpur,” ujarnya dalam video tersebut.

Ia menjelaskan, penggunaan alat berat menjadi satu-satunya pilihan karena ketebalan lumpur yang mengendap sudah tidak memungkinkan dibersihkan secara manual.

“Kalau ke belakang atau ke samping rumah, lumpurnya masih setinggi pinggang. Nggak mungkin bersih kalau cuma pakai cangkul,” lanjutnya.

Warga tersebut mengaku biaya sewa beko diperoleh dari bantuan keluarga dan kerabat yang berada di luar daerah.

Tanpa bantuan tersebut, pembersihan rumah nyaris mustahil dilakukan.

Kondisi perkampungan di Desa Blang Gleum, Kecamatan Julok, Aceh Timur, sebagaimana terlihat dalam video, masih dipenuhi lumpur basah.

Air sisa banjir juga tampak menggenang di sejumlah titik, membuat jalan kampung licin dan sulit dilalui warga.

“Ini kondisi kampung kami setelah sebulan banjir. Sudah ada perubahan sedikit. Yang awalnya lumpur selutut, sekarang sebagian sudah dikeruk pakai beko,” katanya.

Meski demikian, aktivitas warga masih sangat terbatas. Jalan lingkungan belum sepenuhnya bersih, dan risiko terpeleset akibat lumpur basah masih tinggi.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, hingga saat ini sekitar 8.000 warga dari 22 kecamatan masih bertahan di posko pengungsian akibat dampak banjir bandang tersebut.

Pemkab Aceh Timur juga mencatat tingkat kerusakan rumah yang cukup parah.

Sebanyak 5.171 unit rumah mengalami rusak berat, 5.294 unit rusak sedang, dan 1.426 unit rumah rusak ringan.

Sebagai langkah penanganan lanjutan, pemerintah daerah berencana membangun hunian sementara (huntara) bagi para penyintas banjir.

Pada tahap awal, sekitar 1.000 unit rumah sementara akan dibangun untuk membantu warga yang kehilangan tempat tinggal. (Red)