BLORA – Ada berapa jumlah bioskop di Blora dan Cepu pada masa lalu ternyata menyimpan jawaban yang tak sesederhana dugaan awal.
Jawaban cepatnya adalah lima bioskop. Namun bila ditelusuri lebih teliti termasuk memperhitungkan bioskop termuda yang hanya berumur seumur jagung angka yang lebih tepat adalah enam bioskop, masing-masing tiga di Blora dan tiga di Cepu.
Data ini dapat dilacak dalam buku Data Perbioskopan di Indonesia 1984 yang diterbitkan Direktorat Pembinaan Film dan Rekaman Video Departemen Penerangan bersama GPBSI dan PT Perfin.
Dalam buku tersebut, tercatat sejumlah bioskop aktif di wilayah Blora dan Cepu pada era kejayaannya.
Namun, pencatatan resmi itu tak sepenuhnya luput dari kekeliruan.
Beberapa kesalahan mendasar ditemukan, mulai dari penulisan nama jalan hingga anggapan bahwa dua bioskop di Cepu merupakan gedung berbeda, padahal sejatinya hanya satu bangunan yang berganti nama dari Semangat Theater menjadi New Jaya Theater.
Kesalahan lain yang cukup mencolok adalah penamaan Jalan Sudirman di Blora, yang seharusnya Jalan Sudarman, nama tokoh lokal yang kerap disalahpahami sebagai Sudirman.
Salah satu bioskop paling bersejarah di Blora adalah Tridaya Theater, yang kini dikenal sebagai Gedung Sasana Bhakti.
Bangunan ini menyimpan lapisan sejarah panjang: mulai dari wisma tamu pemerintah kolonial Hindia Belanda, markas Kempetai Jepang, hingga tempat penahanan politik pasca peristiwa 1965.
Setelah melewati masa kelam sejarah, gedung tersebut bertransformasi menjadi ruang publik dan pusat hiburan rakyat.
Pada era 1970–1980-an, Tridaya Theater menjadi magnet warga Blora untuk menonton film-film India, koboi, hingga laga populer.
Tak hanya film, gedung ini juga pernah menjadi pusat seni dan budaya, tempat pertunjukan ludruk, hingga ruang berkumpul masyarakat lintas generasi.
Kini, Sasana Bhakti difungsikan sebagai gedung serbaguna yang menampung berbagai acara, dari pernikahan hingga kegiatan budaya.
Di Cepu, jejak bioskop juga tak kalah unik. Semangat Theater awalnya merupakan Gedung Pertemuan Nahdlatul Oelama (NU).
Setelah peristiwa 1965, gedung ini dikelola aparat keamanan sebelum akhirnya beralih fungsi sebagai bioskop.
Selain itu, ada pula bangunan yang dikenal warga sebagai Soos Sasono Suko, yang meski bukan bioskop murni, kerap digunakan sebagai tempat pemutaran film.
Kini, bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya dan lebih sering difungsikan sebagai gedung pertemuan dan resepsi pernikahan.
Perkembangan teknologi, perubahan pola hiburan, serta lesunya industri film daerah membuat satu per satu bioskop di Blora dan Cepu tutup.
Namun kenangan tentang bersepeda sore demi menonton film, antri karcis, hingga hiruk-pikuk penonton sebelum lampu dipadamkan, tetap hidup dalam ingatan warga.
Enam bioskop itu mungkin telah lama redup, tetapi jejaknya masih melekat sebagai bagian penting dari sejarah sosial, budaya, dan hiburan masyarakat Blora–Cepu. (Red)

























