KEDIRI – Kota Kediri hari ini menjadi saksi pertemuan agung para penjaga gawang moral bangsa.
Di tengah dinamika sosial yang kian kencang, Prof. Dr. H. Fernadya Sima Antasari, Lc., M.A., M.B.A., turut hadir dalam gelaran Musyawarah Kubro Nahdlatul Ulama (NU) yang dipusatkan di Pondok Pesantren Lirboyo, Minggu (21/12/2025).
Kehadiran sosok intelektual muslim ini menjadi sinyal kuat pentingnya kolaborasi antara akademisi dan ulama dalam menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Momen ikonik terekam saat Prof. Fernadya, yang tampil mencolok dengan busana merah, berjalan beriringan di posisi tengah bersama para kiai sepuh dan pengurus NU memasuki arena utama.
Langkah ini bukan hanya prosesi formal, melainkan simbol kuat dari nilai ta’awun (tolong-menolong) dan tasamuh (toleransi) yang menjadi ruh pergerakan Nahdlatul Ulama.
Musyawarah Kubro NU bukan forum biasa. Ini adalah “dapur” pemikiran strategis tempat para tokoh Nahdliyin dari seluruh penjuru negeri berkumpul.
Agenda utamanya sangat penting yaitu mencari solusi atas masalah sosial ekonomi warga, merumuskan posisi Indonesia di mata dunia melalui perspektif Islam moderat, menjadikan NU sebagai jangkar perdamaian dan inklusivitas.
Gagasan Solutif untuk NKRI
Dalam forum ini, Prof. Fernadya Sima Antasari diharapkan memberikan kontribusi intelektual yang mampu menjembatani nilai keislaman tradisional dengan tuntutan modernitas global.
Keberadaan tokoh nasional sekaliber Prof. Fernadya menambah bobot diskusi agar melahirkan kebijakan yang moderat dan berpihak pada rakyat kecil.
“Kehadiran beliau menegaskan bahwa intelektualitas dan religiusitas harus berjalan beriringan untuk menjaga kemaslahatan umat,” ungkap salah satu peserta musyawarah.
Musyawarah Kubro di Lirboyo ini diharapkan tidak hanya menghasilkan dokumen di atas kertas, tetapi menjadi kompas moral bagi jutaan umat Islam di Indonesia.
Di saat dunia mengalami pergeseran nilai, suara dari Kediri hari ini adalah pengingat bahwa musyawarah ulama tetap menjadi jangkar kebijaksanaan yang menjaga kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Momentum di penghujung tahun 2025 ini membawa harapan baru bahwa di bawah bimbingan para kiai dan dukungan para intelektual, masa depan bangsa akan tetap berada di jalur yang damai dan bermartabat. (aj)

























