Beranda Daerah Obor Sewu Jadi Pondasi, Batik Bunga Siap Warnai Identitas Bojonegoro

Obor Sewu Jadi Pondasi, Batik Bunga Siap Warnai Identitas Bojonegoro

IMG 20251219 WA0000

BOJONEGORO – Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menegaskan bahwa batik memiliki posisi strategis sebagai identitas sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Karena itu, langkah Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Bojonegoro menggelar Lomba Desain Motif Batik Bunga dinilai sangat tepat dan visioner.

Hal tersebut disampaikan Wabup Nurul Azizah saat memberikan sambutan pada lomba yang digelar di Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro, Kamis (18/12/2025).

“Batik bukan hanya warisan budaya, tetapi juga peluang ekonomi yang nyata. Inisiatif IWAPI ini sangat positif karena mampu memadukan kreativitas, kearifan lokal, dan pemberdayaan perempuan dalam satu kegiatan,” ungkapnya.

Saat ini, Bojonegoro telah memiliki motif batik Obor Sewu sebagai ciri khas daerah. Motif tersebut melambangkan cahaya dan penerang, sekaligus harapan agar Bojonegoro terus menjadi sumber inspirasi melalui karya dan inovasi masyarakatnya.

Namun, Wabup menilai pengembangan motif baru tetap diperlukan agar batik Bojonegoro semakin kaya, adaptif, dan mampu menjawab selera pasar.

Tak hanya bicara soal kreativitas, Nurul Azizah juga menekankan pentingnya penguatan pemasaran batik lokal. Ia mendorong sinergi antara pengrajin, pelaku UMKM, dan pasar daerah.

Salah satu peluang besar adalah rencana pembangunan Pasar Kota Bojonegoro pada 2026, yang nantinya bisa difungsikan sebagai ruang display dan promosi batik khas Bojonegoro.

“Batik harus dekat dengan pasar. Jika pengrajin dan pasar tersambung, dampaknya akan langsung terasa pada ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Sejak pagi, Pendopo Malowopati tampak berbeda. Puluhan peserta dari berbagai usia terlihat serius menuangkan ide dan imajinasi di atas kertas.

Mereka merangkai garis, warna, dan filosofi menjadi desain motif batik bunga yang dipadukan dengan unsur jati, sebagai identitas khas Bojonegoro.

Peserta bebas memilih jenis bunga, mulai dari bougenville, tabebuya, krisan, hingga anggrek, yang kemudian diolah agar selaras dengan karakter batik.

Usai pengerjaan, dewan juri langsung melakukan diskusi dan penilaian untuk memilih desain terbaik yang dinilai paling memungkinkan diaplikasikan ke kain batik.

Rangkaian acara semakin semarak dengan fashion show batik khas Bojonegoro. Peragaan busana ini menjadi penutup yang menegaskan bahwa batik lokal tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga mampu tampil elegan, modern, dan bernilai ekonomi tinggi.

Ketua IWAPI Bojonegoro, Sri Artiningsih, menyampaikan bahwa lomba ini merupakan langkah awal untuk melahirkan motif batik baru khas Bojonegoro. Menurutnya, kegiatan ini tidak berhenti pada penentuan pemenang.

Desain terbaik akan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan selanjutnya diwujudkan oleh para pembatik.

“Insya Allah, jika sudah direalisasikan menjadi batik, akan kami launching pada bulan Maret mendatang. Kami rencanakan ada show besar khusus batik Bojonegoro,” ujarnya.

Perwakilan juri, Wirasno, Ketua Asosiasi Pengrajin Batik Jawa Timur (APBJ), mengapresiasi tingginya antusiasme peserta yang datang dari lintas generasi, mulai anak-anak, generasi muda, hingga orang tua.

“Hasil karya peserta luar biasa. Namun karena ini motif batik, tidak semua gambar indah bisa langsung diterapkan. Kami memilih desain yang paling memungkinkan untuk dikembangkan melalui pendampingan agar benar-benar bisa menjadi motif batik baru yang bernilai,” jelasnya. (aj)