Beranda Daerah Bukan Sekedar Nongkrong, Warkop Teras Kahuripan Jadi Arena Kritik Pemkab Sidoarjo

Bukan Sekedar Nongkrong, Warkop Teras Kahuripan Jadi Arena Kritik Pemkab Sidoarjo

IMG 20251216 WA0027

SIDOARJO — Warkop Teras Kahuripan tak hanya menjadi tempat nongkrong, tetapi berubah menjadi panggung aspirasi warga. Dalam kegiatan Refleksi Akhir Tahun yang digelar Relawan Sidoarjo Bebas Bersuara, puluhan warga melontarkan kritik terbuka terhadap kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo yang dinilai belum menepati janji-janji politiknya.

Diskusi yang berlangsung santai namun sarat muatan kritik itu menghadirkan Dr. dr. Andre Yulius, M.H, tokoh yang dikenal luas dengan julukan Dokter Rakyat.

Kehadirannya menarik perhatian warga yang haus akan penjelasan lugas dan perspektif kritis mengenai arah pembangunan Kabupaten Sidoarjo.

Sejak sesi awal, berbagai persoalan klasik langsung mengemuka. Banjir musiman yang terus berulang menjadi keluhan utama warga.

Selain itu, mereka juga mempertanyakan kejelasan grand design dan master plan pembangunan daerah yang kerap digaungkan saat masa kampanye, namun dinilai belum memberi dampak nyata.

“Setiap musim hujan kami selalu kebanjiran. Katanya ada grand design, ada master plan. Tapi kenyataannya masalah yang sama terus terulang,” ujar salah satu peserta diskusi.

Menanggapi hal tersebut, Dr. dr. Andre Yulius, M.H secara terbuka mengakui adanya jurang antara janji politik dan realisasi kebijakan di lapangan. Menurutnya, banyak program berhenti di level slogan tanpa implementasi yang berkelanjutan.

“Kalau bicara jujur, janji kampanye itu belum terasa. Banjir masih menjadi persoalan tahunan. Ini menunjukkan lemahnya perencanaan yang terstruktur dan konsisten,” tegas Andre.

Ia menekankan bahwa pembangunan daerah seharusnya memiliki arah jangka panjang yang jelas, terukur, dan berkesinambungan. Tanpa perencanaan matang, kebijakan hanya bersifat reaktif dan tidak menyelesaikan akar masalah.

Usai diskusi, Andre Yulius menegaskan bahwa kegiatan refleksi akhir tahun bukan sekadar ruang keluhan, melainkan alarm bagi pemimpin daerah untuk kembali mendengar suara rakyat.

“Kritik ini lahir dari kepedulian. Pemimpin yang baik bukan yang alergi kritik, tapi yang mau mendengar dan memperbaiki,” ujarnya.

Dirinya juga mengajak masyarakat Sidoarjo agar tidak pasif dalam mengawal kebijakan publik. Menurutnya, ruang diskusi terbuka seperti ini harus terus dijaga sebagai bagian dari demokrasi yang sehat dan beradab.

Acara refleksi akhir tahun tersebut ditutup dengan harapan besar agar di tahun mendatang, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mampu menghadirkan perubahan nyata, bukan sekadar janji, serta pembangunan yang benar-benar berpihak pada kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat. (Red)