Beranda Infotaiment Ratusan Ibu Surabaya Ikut Skrining HPV DNA, Ini Tujuannya

Ratusan Ibu Surabaya Ikut Skrining HPV DNA, Ini Tujuannya

IMG 20251214 WA0007

SURABAYA — Ancaman kanker serviks masih menjadi momok serius bagi perempuan Indonesia. Fakta mencengangkan menunjukkan, tiga dari lima perempuan penderita kanker serviks di Tanah Air meninggal dunia.

Kondisi ini mendorong Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memperluas langkah pencegahan melalui deteksi dini kanker serviks, salah satunya dengan pemeriksaan Human Papillomavirus Deoxyribonucleic Acid (HPV DNA).

Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Kemenkes RI bersama Tirta Medical Center dan DPD LDII Kota Surabaya.

Kegiatan pemeriksaan HPV DNA digelar di Gedung Serba Guna Sabilurrosyidin, Kecamatan Gayungan, Surabaya, pada Sabtu (13/12/2025), dan diikuti sekitar 300 perempuan.

Berdasarkan data Kemenkes RI, setiap tahun sekitar 36.000 perempuan Indonesia terdiagnosis kanker serviks, dan lebih dari 21.000 di antaranya meninggal dunia.

Angka tersebut menjadikan kanker serviks sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia.

Kepala Cabang Tirta Medical Center Surabaya, dr. Eko Novidianto, menjelaskan bahwa metode HPV DNA mampu mendeteksi keberadaan virus HPV sejak dini, sebelum berkembang menjadi kanker serviks.

“Penularan HPV umumnya terjadi melalui hubungan seksual atau lingkungan seksual. Karena itu, deteksi sejak awal sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih serius,” jelasnya.

Menurut dr. Eko, secara global kanker serviks menempati peringkat kedua kanker terbanyak pada perempuan, sementara Indonesia berada di urutan ketiga dunia dengan jumlah penderita yang cukup tinggi.

Program pemeriksaan HPV DNA ini telah menjangkau berbagai wilayah. “Di Surabaya, kegiatan serupa sudah dilakukan di lima hingga enam lokasi. Di Sidoarjo bahkan mencapai lima sampai sepuluh lokasi. Target kami masing-masing 5.000 peserta untuk Surabaya dan 5.000 peserta untuk Sidoarjo,” ungkapnya.

Pemeriksaan ini diperuntukkan bagi perempuan yang sudah menikah dengan batas usia maksimal 70 tahun, serta memenuhi beberapa ketentuan, di antaranya, tidak melakukan hubungan intim 2×24 jam sebelum pemeriksaan, tidak menggunakan sabun pembersih kewanitaan, tidak sedang haid atau hamil dan belum menjalani tes HPV DNA dalam satu tahun terakhir.

Ketua DPD LDII Kota Surabaya, Akhmad Setiadi, menegaskan kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian LDII terhadap kesehatan masyarakat, khususnya perempuan.

“Kami mengajak para ibu untuk melakukan deteksi dini potensi kanker serviks. Semoga seluruh peserta mendapatkan hasil yang sehat,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan agar manfaatnya semakin luas.

“Dengan dukungan penuh LDII Surabaya, kami ingin kegiatan ini menjadi data kesehatan yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi para ibu,” tambahnya.

Senada, Wakil Ketua DPD LDII Surabaya, Riko Lazuardi, menilai deteksi dini mampu meningkatkan derajat kesehatan sekaligus menekan biaya pengobatan.

“Dengan pemeriksaan sejak awal, biaya kesehatan jauh lebih efisien dan usia harapan hidup perempuan bisa meningkat,” jelasnya.

Dia juga berharap kesadaran melakukan pemeriksaan kesehatan bisa menjadi budaya. “Kami ingin perempuan semakin peduli terhadap kondisi tubuhnya dan rutin melakukan deteksi dini, khususnya kanker serviks,” tandasnya.

Ke depan, LDII Surabaya berharap kerja sama dengan Kemenkes RI dan berbagai pihak dapat terus berlanjut secara berkesinambungan, baik melalui program pemerintah maupun kolaborasi dengan sektor swasta. (sh)