Beranda Daerah Tradisi Meracu Mejaga-jaga: Mistis Meriah dan Pikat Turis di Bali

Tradisi Meracu Mejaga-jaga: Mistis Meriah dan Pikat Turis di Bali

IMG 20251206 WA0015

BALI – Setiap bulan Agustus, Kabupaten Klungkung, Bali berubah menjadi panggung budaya yang penuh warna dan nuansa magis. Di tengah musim pancaroba yang membuat alam tak menentu, masyarakat setempat kembali melaksanakan tradisi Meracu Mejaga-jaga, sebuah ritual unik yang bukan hanya memikat wisatawan, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang hubungan manusia dan alam.

Tradisi ini hadir bukan sekedar seremoni budaya, melainkan ikhtiar masyarakat Klungkung untuk menjaga keseimbangan alam.

Pancaroba di wilayah ini kerap membawa dampak serius, lahan mengering, hewan sulit mendapatkan pakan, hingga aktivitas pertanian warga ikut terganggu.

Di tengah kondisi itu, masyarakat meyakini bahwa tradisi Meracu Mejaga-jaga adalah bentuk penghormatan kepada kekuatan alam sekaligus permohonan agar kehidupan tetap selaras.

Yang membuat tradisi ini begitu mencuri perhatian adalah prosesi mengarak seekor sapi yang dipercaya sebagai simbol kesucian dan penjaga keseimbangan.

Tapi sapi yang digunakan bukan sembarang sapi. Hanya sapi jantan (Sapi Cula) yang benar-benar sehat, kuat, dan dipilih secara khusus oleh keturunan pemangku prajapati, pemangku catua pata, dan pamong dalem, mereka yang dianggap memiliki mandat spiritual untuk menentukan hewan yang layak digunakan dalam ritual agung ini.

Proses pemilihan sapi pun tak bisa dilakukan sembarangan. Ada serangkaian pertimbangan adat dan spiritual yang harus dipenuhi.

Sapi dipandang sebagai titipan sakral yang akan diarak mengelilingi wilayah tertentu sebagai simbol penjagaan.

Bagi masyarakat Klungkung, kehadiran sapi bukan hanya hewan ternak, ia adalah mediator antara manusia, alam, dan kekuatan tak kasatmata.

Saat ritual berlangsung, suasana Klungkung terasa berbeda. Iring-iringan warga dengan pakaian adat, suara gamelan tradisional, dan semangat kolektif masyarakat menciptakan pemandangan yang menggetarkan.

Tak jarang wisatawan yang tengah berada di Bali tak melewatkan momen ini. Mereka penasaran, bagaimana sebuah tradisi sederhana dapat memancarkan aura spiritual dan budaya begitu kuat.

Tradisi Meracu Mejaga-jaga bukan hanya warisan budaya, tetapi juga pengingat pentingnya hidup berdampingan dengan alam. Ketika cuaca tak menentu, ketika tanah mulai kering, masyarakat Klungkung memilih kembali ke akar tradisi memohon perlindungan, meneguhkan harapan, dan menjaga harmoni.

Dan di era ketika budaya sering tersisihkan oleh modernisasi, Klungkung justru membuktikan bahwa kearifan lokal tetap menjadi benteng kuat bagi identitas dan ketangguhan masyarakat.

Tradisi Meracu Mejaga-jaga menjadi bukti bahwa Bali bukan hanya tentang wisata, tetapi juga tentang nilai-nilai budaya yang hidup dan dijaga dengan penuh rasa hormat. (Red)