Beranda Daerah Bojonegoro Viral Lagi: Jalan Ini Hancur, Warga Menjerit

Bojonegoro Viral Lagi: Jalan Ini Hancur, Warga Menjerit

Screenshot 20251120 201138 copy 1280x878

BOJONEGORO – Di pelosok Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, terdapat sebuah jalan akses utama yang kondisinya begitu parah hingga lebih pantas disebut kolam ketimbang fasilitas umum.

Jalan Mori–Guyangan, yang seharusnya menjadi jalur vital bagi warga desa, kini berubah menjadi bukti telanjang betapa timpangnya pembangunan antara pusat kota yang gemerlap dan desa yang dibiarkan merintih dalam gelap.

Setiap tahun anggaran mengalir deras, program pembangunan diumumkan dengan lantang, namun realitas di lapangan khususnya di jalan ini justru menghadirkan ironi.

Mori–Guyangan seakan menjadi panggung kosong yang memperlihatkan kelompok mana yang benar-benar diperhatikan dan siapa yang sekadar dijanjikan tanpa kepastian.

Ruas jalan dipenuhi lubang-lubang besar yang berubah menjadi genangan air mirip kolam renang mini menyambut siapa saja yang berani melintas.

Bukan hanya hambatan, tapi penghinaan, seolah pemerintah sengaja mengenalkan konsep baru “Jalan Uji Nyali untuk Warga Desa.”

Jalan yang menganga ini bukan kerusakan baru, melainkan luka lama yang terus dibiarkan terbuka. Warga ibarat peserta “survival show,” melewati jalan yang lebih mirip lintasan bebek, berharap motor tidak rontok dan kaki tidak terperosok.

Sementara itu, slogan manis pemerintah mengenai “Bahagia, Makmur dan Membanggakan” hanya terasa di kawasan kota.

Desa-desa seperti Mori–Guyangan tampak hanya menjadi catatan pinggir yang tidak pernah masuk radar prioritas.

Ironi lain muncul ketika pemerintah kerap mengumbar keberhasilan pembangunan, namun akses ekonomi warga seperti Mori–Guyangan justru dibiarkan sekarat.

Jika benar jalan ini adalah aset Pemkab, maka perhatian yang diberikan hampir bisa disebut mitos. Jika ini aset desa, pertanyaan lain muncul, kemana dana desa yang setiap tahun dicairkan.

Wawan, pegiat informasi setempat, tak lagi mampu menahan kekesalannya. Ia mempertanyakan komitmen pemerintah yang terkesan hanya menghias kota, sementara desa-desa dibiarkan gersang tanpa sentuhan pembangunan.

“Kalau ini memang aset Pemkab, selama ini mereka tidur di mana, jalan rusak parah seperti ini kok tidak tersentuh, tapi proyek-proyek kota selalu digarap. Prioritasnya di mana,” tegasnya.

Ia juga mempertanyakan pola pembangunan yang tidak pernah berubah. Luas wilayah desa tetap dari dulu, namun proyek konstruksi selalu ditempatkan di titik-titik yang sama. Padahal dana pusat cair tiap tahun.

“Kalau dana tahunan habis untuk operasional dan gaji, lalu uang pembangunan dipakai apa. Masyarakat butuh bukti, bukan laporan rapi yang hanya bagus di atas kertas,” tambahnya.

Kondisi Mori–Guyangan hari ini adalah cermin paling jelas hilangnya pengawasan, rusaknya tata kelola, dan ringkihnya rasa tanggung jawab pemerintah. Janji yang dulu manis berubah menjadi dekorasi hambar tanpa arti.

Warga sudah muak dengan retorika. Mereka tidak membutuhkan slogan atau pencitraan. Yang mereka tunggu hanyalah perbaikan nyata, bukan seremonial atau wacana tanpa ujung.

Sebelum hujan berikutnya menjadikan jalan ini kolam maut, atau kemarau membuatnya menjadi gurun debu yang menyiksa, pemerintah seharusnya sadar,  yang rusak bukan cuma jalan, tapi juga kepercayaan masyarakat. (aj)