Beranda Daerah SAPA BUPATI Bojonegoro: Forum yang Bikin Warga Pulang dengan Senyum

SAPA BUPATI Bojonegoro: Forum yang Bikin Warga Pulang dengan Senyum

1763399607768 copy 1280x819

BOJONEGORO — Pendopo Malowopati tampak lebih hidup dari biasanya pada Senin siang (17/11/2025). Ratusan warga dari berbagai kalangan memadati ruang dialog SAPA BUPATI, forum rutin yang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan langsung keluhan dan gagasan kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Begitu sesi tanya jawab dibuka, sejumlah warga langsung mengangkat tangan pertanda antusiasme yang tinggi untuk berdialog.

Salah satu penanya, Rofiatul Adawiyah, mengemukakan pentingnya penguatan literasi anak dan menanyakan apakah Pemkab Bojonegoro menyediakan anggaran khusus serta kolaborasi dengan komunitas literasi.

Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Bojonegoro, Erick Firdaus.

“Program literasi terus kami jalankan, termasuk berkolaborasi dengan Forum TBM di Bojonegoro. Kami ingin gerakan literasi semakin meluas,” jelas Erick.

Setelah itu, beragam persoalan mengalir dari warga. Mulai dari SOP mobil siagakenyamanan trotoar bagi penyandang disabilitascara mengecek BPJS Ketenagakerjaan, hingga mekanisme penerima program GAYATRI.

Semua pertanyaan dijawab langsung oleh OPD sesuai ranah masing-masing. Respon cepat ini membuat suasana dialog terasa hidup dan solutif.

Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, hadir bersama Sekda Bojonegoro Edi Susanto untuk memastikan jalannya dialog sekaligus menyapa warga yang hadir.

“Saya ingin memastikan setiap suara warga benar-benar didengar, bukan sekedar lewat laporan,” tegas Wabup.

Ia menekankan bahwa SAPA BUPATI bukan hanya agenda seremonial, melainkan wujud pemerintahan yang hadir langsung di tengah masyarakat.

Wabup mencontohkan, ketika ada peternak yang mengeluhkan kurangnya pendampingan teknis, Bupati segera menghubungkannya dengan Disnakkan agar solusi cepat ditangani.

“Setiap persoalan harus dicari solusinya di tempat. Itu inti dari SAPA BUPATI,” imbuhnya.

Di akhir acara, warga tampak saling bertukar cerita. Banyak yang mengaku senang karena bisa menyampaikan keluhan dan mendapatkan jawaban langsung tanpa birokrasi yang berbelit.

Bagi mereka, didengar adalah bentuk pelayanan publik yang paling sederhana namun paling berarti. (aj)