BOJONEGORO – Kabupaten Bojonegoro bukan hanya dikenal sebagai “Kota Migas”, tapi juga wilayah dengan keragaman sosial, budaya, dan ekonomi yang luar biasa. Terbentang di bagian barat Provinsi Jawa Timur, Bojonegoro menjadi kabupaten yang strategis, menghubungkan wilayah Pantura, Jawa Tengah, hingga kawasan industri di Tuban dan Lamongan.
Namun, di balik kemajuan yang terus dikejar, Bojonegoro memiliki satu kekuatan yang sering kali terlupakan yaitu pembagian wilayahnya yang begitu kaya karakter dan potensi.
Kabupaten Bojonegoro terbagi menjadi 28 kecamatan, yang menaungi 11 kelurahan dan 419 desa. Pembagian ini bukan sekedar angka administratif, melainkan gambaran kehidupan masyarakat yang majemuk dan dinamis.
Setiap kecamatan memiliki cerita dan keunggulan tersendiri. Ada kecamatan yang menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan, seperti Bojonegoro Kota, ada pula wilayah yang dikenal dengan keindahan alam dan pertanian subur, seperti Ngasem, Dander, dan Malo.
Sementara di sisi utara, Tambakrejo, Margomulyo, dan Sekar menyuguhkan panorama hutan jati serta kehidupan masyarakat pedesaan yang masih lekat dengan tradisi.
Tidak dapat dipungkiri, sebagian besar kecamatan di Bojonegoro menyimpan sumber daya alam melimpah, terutama minyak dan gas bumi (migas). Kawasan Gayam, Kalitidu, dan Ngasem menjadi titik utama eksplorasi migas yang menopang ekonomi daerah.
Namun di luar migas, Bojonegoro juga dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur. Wilayah seperti Sumberrejo, Kedungadem, dan Baureno adalah sentra padi, jagung, dan hortikultura yang hasilnya tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tapi juga didistribusikan ke luar daerah.
Setiap kecamatan di Bojonegoro menyimpan potensi wisata dan ekonomi kreatif yang patut dikembangkan. Dari Kayangan Api di Ngasem, Negeri Atas Angin di Sekar, hingga geowisata Teksas Wonocolo di Kedewan, semuanya memperlihatkan bahwa Bojonegoro bukan hanya tentang tambang dan sawah tapi juga tentang cerita, budaya, dan inovasi lokal.
Kecamatan Trucuk dan Dander, misalnya, mulai menggeliat dengan industri kreatif dan pariwisata edukatif, termasuk pengembangan Batik Jati Bojonegoro, kriya kayu, serta kuliner khas seperti sambel ale dan serabi Bojonegoro.
Bila ditelusuri lebih dalam, 28 kecamatan Bojonegoro seolah menjadi mozaik kehidupan masyarakat Jawa Timur. Ada wilayah pesisir sungai Bengawan Solo yang ramai dengan aktivitas ekonomi, ada pula dataran tinggi yang sejuk dan alami.
Dari 419 desa dan 11 kelurahan itu, kita bisa menemukan semangat gotong royong, tradisi, dan daya saing lokal yang menjadi modal besar Bojonegoro untuk terus maju. Setiap desa menyumbangkan cerita, setiap kecamatan punya denyut kehidupan yang unik.
Kekuatan Bojonegoro ada di desa-desa yang hidup dan produktif. Pemerataan pembangunan yang kini gencar dilakukan oleh pemerintah daerah tidak hanya berfokus di kota, tetapi juga menyentuh wilayah pedalaman.
Inilah wajah sejati Bojonegoro, kabupaten dengan 28 kecamatan, 11 kelurahan, dan 419 desa yang bersatu membangun dari akar rumput. Setiap wilayah punya potensi, dan jika semuanya bergerak serempak, Bojonegoro akan benar-benar menjadi daerah tangguh, mandiri, dan berdaya saing.
Pembagian wilayah Bojonegoro bukan hanya sekadar data geografis, tapi cerminan keanekaragaman dan kekuatan sosial yang luar biasa. Dari desa hingga kota, dari hutan jati hingga ladang migas, dari sungai hingga industri kreatif semuanya berperan penting membentuk wajah Bojonegoro hari ini dan esok.
Bojonegoro adalah contoh nyata bahwa kemajuan tidak selalu dimulai dari pusat kota, tetapi dari desa-desa yang hidup dan berdaya. (aj)

























