Beranda Daerah Waspada, Ini Daftar Kecamatan di Bojonegoro yang Masuk Peta Rawan Bencana 2025

Waspada, Ini Daftar Kecamatan di Bojonegoro yang Masuk Peta Rawan Bencana 2025

New bpbd copy 1280x830

BOJONEGORO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat upaya mitigasi bencana alam demi melindungi masyarakat dari potensi ancaman yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Salah satu langkah strategis yang tengah digencarkan yakni pemetaan kawasan rawan bencana di seluruh wilayah Bojonegoro.

Langkah ini dinilai sangat penting sebagai dasar pengambilan keputusan cepat dan tepat ketika bencana melanda, sekaligus untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di tingkat desa maupun kecamatan.

Sekretaris BPBD Bojonegoro, Ginuk Karniati, mengungkapkan bahwa hasil pemetaan terbaru menunjukkan hampir seluruh kecamatan di Bojonegoro memiliki potensi bencana dengan tingkat risiko dan karakteristik yang berbeda-beda.

“Pemetaan ini menjadi panduan penting untuk menentukan prioritas penanganan di lapangan serta memperkuat peran masyarakat dalam kesiapsiagaan bencana,” jelas Ginuk.

Berdasarkan hasil kajian BPBD, Kecamatan di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo seperti Trucuk, Kapas, dan Baureno masuk kategori risiko tinggi terhadap banjir tahunan.

Wilayah selatan seperti Temayang, Gondang, dan Sekar berpotensi mengalami tanah longsor dan banjir bandang akibat kondisi perbukitan.

Sementara Bojonegoro bagian barat, termasuk Tambakrejo dan Ngasem, rawan terhadap angin kencang dan kekeringan saat musim kemarau.

Ginuk menambahkan, pihaknya kini tengah memperkuat langkah mitigasi melalui edukasi kebencanaan, sosialisasi sistem peringatan dini, serta pelibatan aktif masyarakat.

“Kami menggandeng perangkat desa, TNI-Polri, dan para relawan untuk memastikan kesiapsiagaan masyarakat benar-benar terbangun. Tujuannya, agar warga siap menghadapi potensi bencana di lingkungannya masing-masing,” ujarnya.

Tak hanya itu, BPBD juga mendorong pelaporan cepat kejadian bencana melalui kanal online dan offline, termasuk pemanfaatan media sosial agar informasi bisa segera ditindaklanjuti.

Selain itu, program Desa Tanggap Bencana (Destana) juga terus diperkuat melalui pelatihan tanggap darurat dan simulasi evakuasi di berbagai desa rawan bencana.

Dengan berbagai langkah tersebut, BPBD Bojonegoro berharap risiko bencana dapat ditekan seminimal mungkin dan keselamatan masyarakat semakin terjamin.

“Mitigasi bukan hanya soal kesiapan pemerintah, tapi tentang sinergi bersama seluruh elemen masyarakat. Semakin siap kita hari ini, semakin kecil dampak yang akan terjadi nanti,” tutup Ginuk. (aj)