BOJONEGORO – Suara gamelan berpadu dengan gerak gemulai penari tayub menggema di Desa Sobontoro, Kecamatan Balen, Sabtu (11/10/2025).
Puluhan seniman lokal tampil memukau dalam Lomba Seblak Sampur atau Ibing Tayub Bojonegoro 2025, sebuah ajang pelestarian budaya yang memadukan seni, tradisi, dan semangat kebersamaan.
Kegiatan ini digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348 yang mengusung tema “Bersinergi untuk Bojonegoro Mandiri.”
Dalam sambutannya, Kadisbudpar Welly Fitrama menegaskan bahwa pelestarian budaya menjadi bagian penting dari visi besar pembangunan daerah, yakni Bojonegoro Bahagia, Makmur, dan Membanggakan.
“Kebudayaan harus menjadi sumber kebanggaan sekaligus kesejahteraan masyarakat. Lewat kegiatan seperti Seblak Sampur ini, kita hidupkan lagi ekosistem budaya lokal,” ujarnya.
Welly juga menambahkan, Tayub Bojonegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kemendikbudristek pada 2021, kini menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga dan dikembangkan.
“Tayub bukan sekadar tari, tapi identitas Bojonegoro. Ia mengikat silaturahmi para seniman dan memberi ruang ekonomi kreatif tumbuh,” lanjutnya.
Menariknya, momentum ini juga menjadi bagian dari langkah Bojonegoro menuju Aspiring UNESCO Global Geopark 2026, menandakan potensi budaya dan alam Bojonegoro mulai diakui dunia.
Tak hanya jadi tontonan, lomba ini juga menghadirkan lapak UMKM dan pelaku ekonomi kreatif yang ikut meramaikan acara. Sebagai penutup, Pemkab Bojonegoro memberikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Sobontoro atas keberhasilannya menjaga dan mengembangkan kesenian Oklik Sobontoro, yang juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Bojonegoro. (aj)
























