Beranda Daerah Miris, Pensiunan DAMRI Jalan Kaki Ribuan Kilometer Gara-gara Pesangon Tak Dibayar

Miris, Pensiunan DAMRI Jalan Kaki Ribuan Kilometer Gara-gara Pesangon Tak Dibayar

Ea17d85f 0efb 40b6 8fcf f5f83ec73e0d

SURABAYA – Puluhan purna tugas Perum DAMRI tahun 2024/2025 akhirnya turun ke jalan menuntut hak pesangon mereka yang tak kunjung dibayar.

Geram dengan sikap manajemen yang dianggap abai, mereka bahkan siap melakukan aksi jalan kaki dari Surabaya menuju Jakarta demi menuntut keadilan.

Aksi dimulai di kantor cabang DAMRI Surabaya, Jalan Kalirungkut No. 7A, tempat para purna tugas menyampaikan tuntutan agar hak mereka segera dipenuhi.

Mereka menegaskan, perjuangan ini bukan soal belas kasihan melainkan hak yang sah secara hukum dan moral.

Koordinator aksi, Watro, menegaskan bahwa langkah ekstrem ini adalah bentuk keputusasaan setelah berbagai jalur komunikasi dan mediasi berulang kali gagal membuahkan hasil.

“Kami hanya menuntut hak kami, bukan meminta belas kasihan. Pesangon itu kewajiban perusahaan, bukan hadiah. Kalau hak ini tidak segera dibayar, kami siap jalan kaki ke Jakarta sampai didengar,” tegas Watro.

Ia menambahkan, sebanyak 23 purna tugas menuntut agar pembayaran pesangon dilakukan paling lambat Desember 2025.

“Kalau di tengah perjalanan kami dapat kabar bahwa hak itu sudah dibayar, saya siap balik kanan ke Surabaya,” ujarnya menantang.

Sementara itu, General Manager DAMRI Cabang Surabaya, Heru Warsono, S.E., mengaku telah menerima aspirasi para purna tugas dan berjanji akan meneruskan tuntutan mereka ke manajemen pusat.

Namun, ia tetap menyarankan agar aksi jalan kaki tidak dilakukan, dengan alasan faktor usia dan kesehatan.

“Kami memahami tuntutan rekan-rekan purna tugas. Semua aspirasi akan kami sampaikan ke pusat. Tapi kami khawatir dengan kondisi mereka, mengingat sebagian besar sudah tidak muda lagi,” ujar Heru.

Sayangnya, janji untuk menyampaikan aspirasi ini justru dianggap angin lalu oleh para purna tugas. Salah satu di antaranya, Sumaji, menyebut pihak manajemen sudah terlalu sering berjanji tanpa ada realisasi.

“Kami sudah capek dijanjikan terus. Sudah beberapa kali pertemuan, bahkan terakhir dihadiri akademisi dan pihak kepolisian, tapi hasilnya nihil. Tidak ada kejelasan, tidak ada kepastian,” ujarnya penuh kekecewaan.

Aksi ini berlangsung damai namun sarat makna. Masyarakat yang melintas turut memberikan dukungan moral. Mereka menilai perjuangan para purna tugas tersebut adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan korporasi terhadap pekerjanya sendiri.

Kini, semua mata tertuju pada manajemen pusat DAMRI di Jakarta apakah mereka akan mendengar jeritan para mantan pegawainya, atau justru membiarkan langkah kaki mereka menjadi saksi bisu dari janji yang diingkari. (Sam)