Beranda Daerah Puluhan BUMDes di Bojonegoro Dilatih GAYATRI

Puluhan BUMDes di Bojonegoro Dilatih GAYATRI

0675aa94 b70d 4559 9002 c2c8d90b754e

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus menggenjot inovasi dalam mewujudkan kemandirian desa. Salah satu langkah nyata adalah dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam Program Gerakan Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI) yang kini semakin meluas di berbagai kecamatan.

Lewat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Pemkab menggelar pelatihan khusus bagi pengelola BUMDes. Kegiatan ini berlangsung di Pendopo Kecamatan Kanor selama tiga hari, Senin–Rabu (25–27/8/2025), dan diikuti puluhan perwakilan BUMDes dari enam kecamatan.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menegaskan bahwa program GAYATRI sejalan dengan visi nasional Presiden Prabowo yang mengedepankan ketahanan pangan sebagai prioritas.

“Pusat sudah mendorong beberapa program unggulan, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, Koperasi Desa Merah Putih, hingga Cek Kesehatan Gratis (CKG). Semuanya diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” jelas Nurul.

Ia menambahkan, Pemkab Bojonegoro berkomitmen pada empat agenda utama: menekan angka kemiskinan, meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menekan angka pengangguran.

Program GAYATRI tidak hanya berhenti pada penyediaan ayam petelur, tetapi juga diarahkan sebagai sumber penghasilan harian warga desa. Menurut Nurul Azizah, di Desa Piyak dan Sedeng (Kecamatan Kanor), setiap keluarga penerima manfaat bisa menghasilkan 20–40 butir telur setiap hari.

“Ketika warga sudah mandiri secara ekonomi, maka sasaran program akan dialihkan ke kelompok lain. Dengan begitu, manfaatnya bisa berkesinambungan,” tegasnya.

Selain GAYATRI, Pemkab juga menjalankan Program Kolam Lele Keluarga (KOLEGA) yang digerakkan Dinas Peternakan dan Perikanan sebagai tambahan solusi ketahanan pangan sekaligus sumber pendapatan baru.

Sementara, Kepala DPMD Bojonegoro, Machmuddin, memaparkan bahwa saat ini terdapat 419 unit BUMDes di Bojonegoro. Dari jumlah tersebut, mayoritas bergerak di sektor ketahanan pangan.

Rinciannya, 231 BUMDes Perintis, 103 BUMDes Pemula, 77 BUMDes Berkembang, 7 BUMDes Maju.

Dari total tersebut, 190 BUMDes sudah berbadan hukum dan 31 memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).

Machmuddin menekankan, pelatihan ini bukan sekadar teori, tetapi juga praktik untuk menguatkan peran BUMDes sebagai, mitra pembeli hasil produksi telur, penyedia pakan, pendamping usaha warga, sekaligus membantu distribusi dan pemasaran.

“BUMDes punya posisi strategis. Harapannya, lahir model bisnis baru yang berbasis potensi lokal dan berorientasi pada keberlanjutan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Dikesempatan yang sama, Camat Kanor, Faishol Ahmadi, mengaku bangga kecamatannya dipilih sebagai tuan rumah pelatihan. Pasalnya, Desa Piyak dan Sedeng telah terbukti sukses menjalankan GAYATRI dengan produksi telur stabil setiap hari.

“Keberhasilan ini menjadi contoh nyata bahwa desa bisa mandiri dan berdaya. Kami berharap pendampingan dari Pemkab terus berjalan agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat,” kata Faishol.

Lewat pelatihan ini, Pemkab Bojonegoro berharap pengelola BUMDes memiliki kemampuan manajerial dan teknis budidaya ayam petelur yang mumpuni. Dengan demikian, GAYATRI tidak hanya berhenti sebagai program bantuan, tetapi berkembang menjadi gerakan ekonomi kerakyatan berbasis desa. (aj)