Beranda Daerah Inovasi Bojonegoro: Tangkap Hujan Atasi Krisis Air

Inovasi Bojonegoro: Tangkap Hujan Atasi Krisis Air

816f36d9 cc29 49a8 8de0 dac7ea09b387

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kembali menunjukkan komitmennya dalam mengatasi krisis air bersih yang kerap menghantui wilayah rawan kekeringan.

Lewat program inovatif Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH), sebanyak 76 unit IPAH resmi dipasang di 19 desa yang tersebar di 7 kecamatan.

Program ini terlaksana berkat kolaborasi solid antara Pemkab Bojonegoro, LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro), Ademos, PT. ADS, dan Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dinpora).

IPAH terdiri dari dua tipe, yakni IPAH pribadi berkapasitas 1.200 liter dan IPAH komunal 2.000 liter. Air hujan yang biasanya terbuang sia-sia, kini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak.

“Potensi air hujan di Bojonegoro besar, tapi belum banyak dimanfaatkan. IPAH hadir sebagai solusi nyata,” ujar Dr. Laily Agustina Rahmawati, Ketua LPPM Unigoro.

Ia menambahkan, air hujan yang ditampung melalui sistem IPAH tidak hanya bisa dimanfaatkan langsung, tetapi juga menjadi bagian dari upaya penanggulangan kekeringan jangka menengah, berkat adanya sistem sumur resapan dalam instalasinya.

Berikut sebaran IPAH di tujuh kecamatan, Kecamatan Kedungadem, 10 unit IPAH pribadi di Desa Kedungadem (dukungan Ademos).

Kecamatan Gondang: Total 23 unit (13 dari Ademos, 10 dari PT. ADS) tersebar di Desa Gondang, Senganten, Sambongrejo, Krondonan, Jari, dan Pragelan.

Kecamatan Tambakrejo: 26 unit termasuk 6 IPAH komunal di GOR Tambakrejo (Dinpora), sisanya di Desa Jatimulyo, Kalisumber, Gamongan, Malingmati (PT. ADS).

Kecamatan Sekar: 9 unit IPAH pribadi di Desa Bareng dan Miyono. Kecamatan Ngraho: 3 unit IPAH di Desa Sugihwaras. Kecamatan Margomulyo: 3 unit IPAH di Desa Meduri.

Dr. Laily menekankan, keberhasilan IPAH juga bergantung pada kesadaran masyarakat penerima manfaat untuk menambah daya tampung secara mandiri.

“Semakin banyak tampungan, semakin tinggi cadangan air yang bisa digunakan di musim kemarau,” jelasnya.

Tak hanya itu, penanaman pohon juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan sistem ini. Sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun ketahanan air yang berkelanjutan di Bojonegoro.

“Kalau semua bergerak bersama, InsyaAllah krisis air bisa kita atasi bersama,” tutupnya. (aj)